ke.nar.sis.an.ku

28 January, 2008

From: Dimas Carrera
Phone Number: +628139275xxxx
Date: 16/01/2008
Time: 09.30 pm

Text Message:
duh ja, u should be thinking to be
a writer, postingan ketiga udah
mejadi narasi deskriptif yg keren
bgt *tatapan sirik* pas bagian
mimpi daku berprasangka
dibwhnya ada tulisan “diambil
dr novel ***” ternyata… salut! keep
writing :)

**pipi merona**


…ikan Asin rasa Coklat

28 January, 2008

Mata, mata nya lelaki. Bagai ujung periskop yang mampu leluasa melihat ke sekeliling penjuru, atau mungkin bisa berputar 360 derajat disaat yang diperlukan. Sebagai ujung tombak dari sonar yang ditebarkan, melalui frekuensi tertentu, bedanya ini bukan mendeteksi serangan musuh, tapi lebih kepada menjaring target yang diharapkan. Target yang diharapkan? Ya iyalah, apalagi yang diharapkan untuk dilihat selain makhluk gemulai berasal dari venus, kulit putih mulus, tampakkan urat-urat biru yang halus, rambut panjang lurus, wangi mengalahkan kapur barus, dan badan ramping jenjang terurus.

Korban kekerasan media memang kita, dimana presepsi image wanita cantik berarti seperti itu. Membuktikan betapa dahsyatnya media, dan tak heran kadang dimanfaatkan untuk konpirasi-konspirasi licik yang berujung pada pembentukan presepsi SALAH menjadi BENAR. Dan aku beserta kedua temanku, pasrah saja dibodohi untuk di cuci otaknya mengenai presepsi wanita cantik tadi, tapi ya sudahlah, memang ini indah kok. Kenapa akhirnya harus munafik untuk menyangkal itu. Toh batasan pandangan zina kan dikedipan pertama, nah kami mencoba untuk tidak mengedip di pandangan pertama, sampai si wanita berupa titik kecil berlenggak-lenggok. Pedas juga terasa mata ini, tak heran minus-nya semakin bertambah. Tapi percayalah, hampir semua Mall di Jakarta menyediakan pemandangan ini. Apalagi Mall yang katanya di posisikan untuk SES A+ ini, kami orang-orang tak tahu diri yang berada di golongan D-, mencoba percaya diri saja melenggang.

Disatu selasar wanita dengan rok 25 centi diatas lutut, kaos tanpa lengan, rambut kriting gantung, anting-anting yang lebih cocok kalau menjadi gelang karena besarnya bergoyang-goyang di kuping. Sekelebatan wanita 23 tahunan, putih, tak begitu tinggi sekitar 155-an cm tapi terlihat 165-an cm karena highheels nya, skinny jeans, baju kebesaran open shoulder, di pundaknya tali surga **tali menuju surga dunia maksudnya** muncul disengaja. Melewatiku hampir tertabrak **ah kenapa hanya “hampir”** kecil imut sekitar 19 tahunan, memakai legging hitam, baju hijau yang tampaknya seperti setengah potongan daster kelelawar ibuku, ditengah baju itu bertuliskan MANGO, profesi nya tukang rujak kurasa, karena dia senang buah yang enak buat rujak, sangking senangnya tulisan mangga dibuat manik-manik di tengah-tengah bajunya **bodohnya aku**, desiran shampoo mahal dari rambutnya, dan wangi tubuhnya campuran rempah-rempah lulur cap dua putri dan kayu manis, tinggal ditambah ketumbar, pala, dan cabai keriting kurasa bisa jadi bumbu rendang mba nya ini.

Di pojok lain pasangan bergelayutan, tapi tetap wanitanya yang kami jadikan objek observasi, cantik sekali.

Tapi kenapa?.

Pasangan lainnya lewat, sekali lagi wanitanya cantik mendayu-dayu.

Tapi kenapa?.

Bertebaran dimana-mana pasangan. Dan sekali lagi muncul pertanyaan:

Tapi kenapa?

Inilah saat yang paling mengasyikkan sekedar pengobat rasa sakit hati karena harga yang tak masuk akal di setiap etalase, dimana salah satu tokonya memajang tulisan besar

SALE DISC 50%

untuk sepasang kancut pria menjadi “hanya” seharga Rp. 750.000 setelah di discount.

Bergunjing. Yah itulah obat sakit hati kami terhadap kesenjangan isi dompet ini.

“Tuh cewek cantik banget ya, sayang uda bawa monyet”. Temanku El memulai obrolan berujung kata sandi para pria, yang berarti melihat cewek cantik tapi sudah bergandengan dengan pasangannya. “Tapi ko mau ya, standar gitu muka cowoknya”, dia menambahkan sambil berbisik

“Ahh, pasti mobilnya yang ga standar”, Wan tidak mau kalah menambah dosa hasil gunjingan ini.

Teman-temanku sudah mendapat dosa, atas dasar solidaritas kesetiakawanan aku pun ingin ikut berdosa,

“Mungkin minyak senyong-nyong ama ajian Jaran Goyang yang sudah berbicara”

Komentar-komentar pun segera merentet dari mulut kami selama ada di Pusat Perbelanjaan itu. Membandingankan pasangan satu dengan yang lain. Betapa beruntung si pria dan tidak beruntungnya si wanita, atau sebaliknya. Dan memang banyak sekali tontonan malam itu yang dapat kami jadi kan analisa quantitatif dadakan. Intinya kenapa sih si wanita mau dengan pria tipe seperti itu atau sebaliknya, dimana seharusnya mereka bisa mendapatkan jauh lebih baik dari yang mereka bayangkan. Kami bertiga contohnya. Sakit hati karena kancut itu berujung pada perbuatan yang lebih kejam dari pembunuhan: fitnah.

Karma-pun terjadi instan seperti photo box, tanpa menunggu lama. Karcis parkir mobil yang disimpan baik-baik raib entah kemana! Dan untuk Pusat Perbelanjaan seperti ini yang keamanan parkirnya maha ketat, kehilangan karcis parkir berarti pelanggaran besar. Pemeriksaan-pemeriksaan berlangsung lebih dari 1,5 jam oleh pihak security yang seharusnya bisa hanya 5 menit, hanya karena Kepala Keamanannya sedang izin, sehingga kami harus menunggu sampai beliau kembali. Pencocokan nomer STNK dan nomer plat mobil, ditanyai segala macam, hingga berlangsung ke pembayaran uang denda yang jumlahnya bisa cukup menyumpal mulut kamu bertiga dengan waffle sundaes kesukaanku dibanding bergosip. Tuhan Maha Membalas, dan dia berbaik hati untuk membalasnya di dunia ini.

***

Tapi fenomena ini memang sering terjadi **menggunakan kata “fenomena”, membuatku merasa seperti Feny Rose di “setajam Silet!” **. Tapi benar teman. Lihatlah disekeliling kalian, banyak wanita cantik yang bergandengan dengan pria yang biasa saja. Atau pria yang gantengnya ‘aujubilee memberikan tatapan melindungi pada wanitanya yang standar. Jangan bilang kalau kalian juga tidak tergoda untuk berbisik-bisik di belakangnya, sekedar membicarakan Beauty and the beast ini.

Tapi apa sih yang sebenarnya dipermasalahkan. Presepsi cantik harus mendapat ganteng, atau ganteng harus mendapat cantik justru membuat kita menjadi seekor Pungguk, tak berani terbang untuk meraih sang bulan. Dan ternyata fakta ini **kali ini beralih ke style Kania Sutisnawinata di Indonesia Now karena penggunaan kata “fakta” ** membuat banyak pria atau wanita tak berani mendapatkan sesuatu yang dinggapnya berada jauh di selemparan lembing, padahal bisa dijangkaunya karena hanya selemparan kancut **please, berhenti bicara tentang kancut, masih perih hati ini, entah karena tak mampu membeli atau mendapat karma karenanya**.

Aku pun pernah merasakan dulu waktu berumur 11 tahun. Menyukai seorang gadis cantik, primadona satu kompleks karena parasnya yang ayu dan rambutnya yang jika disibakkan bagai menebar kembang tujuh rupa. Tak berani ku mengungkap cinta ini, karena merasa apalah aku, seorang anak kecil kurus, rambut poni beatles, dekil bau matahari. Beruntungnya aku, si gadis mengungkapkan cintanya lebih dulu kepadaku, kalau tidak, kurasa dia hanya akan menjadi putri dan aku rakyat jelata yang tetap terperangkap di tubuh sang kodok. Dan rasa menyesal pun timbul, bukan karena aku akhirnya berhasil mendapatkan si gadis, atau karena waktu kami berpacaran hanya sebentar, disebabkan aku dan keluarga harus pindah ke Kota Gudeg. Tapi karena mengapa tak dari dulu kucoba mendekati dan mengajaknya ber-cinta monyet, mungkin aku bisa lebih lama bersama dengannya main dokter-dokteran **buang pikiran kotormu wahai pembaca yang budiman**

(Cerita dengannya mungkin lain waktu akan kuungkapkan disini, dengan seijin kekasih hatiku pastinya )

***

Semua pembukus dan asesori duniawi itu sebenarnya relatif, bagai kerlingan lampu disko, yang jika dihidupkan cahaya ruangan disekitarnya, takkan lagi terlihat indah kerlap-kerlipnya. Percaya dirilah teman untuk mengejar siapa yang kau mau. Jangan batasi diri dengan hal-hal relatif. Yang lain orang, lain pula pendapatnya.

Ari Lasso pernah mengajarkan ilmu rahasia, dan ini serius, tolong hormati dalam membacanya, serta, tolong jangan disebarkan ke yang lain, karena ini hanya untukmu. Ilmu yang hanya boleh dipraktekkan pria cukup umur. Mulai amalkan ilmu ini dengan terlebih dahulu menyebut namaku tiga kali, lalu koprol ke belakang 2 kali, tiger sprong, diakhiri dengan kayang. Kalau kau mempraktekkan ini semua niscaya kau adalah orang yang sangat aku hargai karena benar-benar serius membaca tulisanku.

“Sentuhlah dia dekat dihatinya, dia kan jadi milikmu selamanya”

Ya hanya itu yang diperlukan. Karena wanita “memandang” sesuatu mendahulukan hatinya. Dan apabila itu berhasil dilakukan, percayalah, maka hatinya yang akan bicara. Jika hatinya yang sudah berbicara maka perasaannya yang akan memutuskan segalanya. Dan saat perasaan yang sudah memutuskan segalanya, maka hal-hal yang berkaitan dengan buruk rupa, materi seadanya, bau badan bagai ban dalam sepeda, dan dandanan abang-abang jual es kelapa, akan melebur menjadi satu penampakan pria dalam serial komik cantik, plus kerlang-kerling cahaya sebagai latarnya. Begitulah jika perasaan yang sudah memutuskan: ikan asin terasa seperti coklat.

***

Mungkin inilah yang menjadi jawaban dari gunjingan-gunjingan kami, mengapa si beauty mau dengan si beast. Yang pasti diperjalanan pulang kami sudah mendapatkan topik yang lebih menarik dari pada itu semua. Yaitu bagaimana cara, jika kami membeli kancut mahal itu, orang tahu kalau kami sedang memakainya, pamer.

Datar El memberikan ide, “Pakai diluar setelah celana panjang”

Wan menyambar, “ Pakai di kepala sebagai hiasan rambut setelah disasak”

“Jahit ditengah kaos, menutupi tulisan MANGO, biar orang tahu profesi pemakainya bukan lagi tukang rujak, tapi tukang kancut”, aku pun menjawab sekenanya.

Sambil mataku mengerling keluar jendela mobil, memperhatikan dua manula saling tuntun memasuki sebuah Taxi. Mereka berdua tahu kalau mereka tak menarik lagi satu sama lain, namun tetap saling menjaga dan membuat segalanya indah menarik, dan kurasa hati merekalah yang berbicara dengan bahasa cinta seumur hidup. Mendadak pemandangan itu berubah menjadi Pangeran yang tampan, gagah bagai panglima perang, sedang menuntun sang Putri dengan gaun mengembang di bagian bawah yang sangat indah, tak ketinggalan sarung tangan putih yang membalut jari-jemari sampai sikunya, sambil menyambut tangan sang Pangeran, sang Putri menunduk tanda terima kasih. Perlahan menaiki Kereta Kencana megah berhiasan batu mulia berwarna-warni dan ditarik selusin kuda putih untuk selanjutnya kembali ke istana mereka.

Ah, ternyata hatiku yang sudah tersentuh.


Wisma lan Turangga

28 January, 2008

Ruangan yang terang benderang, nampak seperti Aula atau gedung serba guna. Lampu dan pengeras suara beribu watt tampakkan taringnya, memang dibuat begitu untuk menyukseskan pagelaran akbar ini. Dimana-mana tampak poster-poster, banner, dan berbagai macam alat dukungan. Teriakan-teriakan berisik serta sorak-sorai berbaur menjadi satu dengan setting-an maximal volume pengeras suara. Mirip sekali suasana ini dengan debat terbuka calon presiden Amerika yang akhirnya hanya di dominasi oleh opini-opini dari Senator Hillary Clinton dan Senator Barrack Obama. Mungkin kalau terlalu jauh daya khayal kalian sampai ke pemilihan presiden di Amerika, kita kembali saja ke pemilihan calon Kades, yang mempertandingkan antara Bpk. H. Tumingkir Dewanggono sebagai calon Kades dari dusun Purwomartani verus Bpk. Tukijan dari dusun Sorogenen. Tumingkir dan Tukijan, dua lawan politik setingkat desa yang diberi julukan masyarakatnya sebagai T2, mungkin karena itu backsound pemilihan ini sebuah lagu populer berjudul “OK”. Nah, ini hampir sama -jika dilihat dari sisi suasana- dengan pemilihan di Amerika sana. Bedanya sorak-sorai dan kerasnya suara dari corong microphone kali ini ditambah dengan riuh rendah kokokan ayam beserta cicitan anaknya, embikan kambing, serta lenguhan sapi. Sudah bisa dibayangkan?? Ahh, akhirnya. Memang terlalu jauh benua Amerika itu.

Tapi ada yang aneh disini, yang berdebat di atas panggung bukanlah Hillary Clinton atau Barrack Obama, apalagi Bpk. H. Tumingkir Dewanggono atau Bpk. Tukijan si dua lawan politik berjulukan T2. Tapi di satu podium berdiri dengan gagah sebuah Ford Escape 2004 Hijau, ban belakangnya kini telah berubah menjadi kaki dan ban depannya beradaptasi menjadi tangan. Front Bumper beserta lampu depannya menyala menjadi mata, dan tempat yang dulu adalah plat nomer, menjadi mulutnya. Mirip sekali dengan autorobot di Transformer. Di podium yang satu lagi tegak kokoh sebuah rumah Bukit Golf Cimanggis dengan Luas Tanah 120 dan Luas Bangunan 60. Matanya mengedip dari jendela atas, mulutnya membuka tutup dari pintu ruang tamu, dan kanopi menjadi hidungnya.

“Akulah yang sepatutnya lebih dulu dipilih untuk dimiliki”. Si mobil lebih dahulu membuka debat terbuka ini.

“Sudah kucanangkan program kerja, untuk membawa yang memilihku, berangkat kerja serta berkeliling kota Jakarta. Belum lagi bisa membawa ke tanah kelahiranmu saat mudik nanti. Dan semua nya dilakukan dengan memberikan kesan gagah padamu wahai pemilihku. Belum lagi bonus lirikan memandang kagum dari orang-orang yang memandang kita nanti”. Mobil melanjutkan debat ini dengan memaparkan proram kerjanya secara gamblang.

Tak mau kalah si rumah angkat bicara, karena saat ini memang gilirannya untuk berbicara,

“Mobil memang boleh dipilih. Tapi aku sarankan untuk memilihku terlebih dahulu. Investasi jangka panjang yang tak akan merugikan, dimana harga tanah tak pernah turun, melainkan selalu naik. Belum lagi akan ada keluarga bahagia yang akan aku naungi nanti. Mata-mata yang melewati pun tak kalahnya takjubnya memandang”, si rumah tanpa henti menonjolkan kelebihan-kelebihannya, sambil sesekali tetap mengedipkan mata jendelanya. Berjenis kelamin betina mungkin si rumah ini.

Karakter kedua pesaing yang terlihat arogan ini membuat suasana debat menjadi semakin seru.

“Kalau masalah keluarga yang kau lindungi jadi bahasan-mu hai rumah. Bayangkan keluarga muda yang kubawa berkeliling melihat-lihat pemandangan, disaat dirimu hanya bisa teronggok seperti barang tak berguna. Belum lagi nanti si kecil yang bermain bebas di kursi belakangku, belanjaan untuk keperluan sebulan yang dibeli ditaruh bagasi, dan ciuman mesra sang istri yang diantarkan belanja sementara si pemilih bekerja”. Mobil tak mau kalah, opini yang dilontarkan kembali memaparkan fakta-fakta untuk menjatuhkan si rumah.

Sementara sorak-sorai pendukung semakin riuh. Mengelu-elu kan kandidat yang mereka pilih.

Elu, elu, elu…” teriak mereka. Tak sedikit pula yang meng-gue-gue kan jagoannya.

Gue, gue, gue…”, sorak sebagaian mereka tak mau kalah.

Dan opini-opini terus terbentuk dengan berjalannya waktu. Saat satu opini menjatuhkan yang lain, maka tepuk tangan dan teriakan membahana.

Kadang teriakan-teriakan itu sedikit menyadarkan aku dari lamunan ini. Pergolakan batin yang sebenarnya membuat suasana kampanye dalam otakku sendiri. Membuat kubu mobil dan kubu rumah oleh syaraf-syaraf khayalanku, dan otot-otot daging menjadi pendukungnya. Yah beginilah, si anak muda yang tak punya uang cukup untuk memiliki keduanya, harus bertarung batin dulu guna memilih mana yang terlebih dahulu harus dimiliki. Tak apalah, karena tak punya cukup uang untuk memiliki, paling tidak aku punya cita-cita untuk menghadapkan kedua materi duniawi itu saling men-debat.

Di dalam kepalaku, debat menjadi semakin panas. Panas sekali bahkan. Karena sebagian pendukung ada yang sudah mulai membakar bendera pendukung lain. Perang mulut di atas panggung sudah mulai menjadi aksi lempar-lemparan microphone. Bahkan si rumah sudah berhasil mengangkat podiumnya untuk dilemparkan ke muka si mobil.

Terasa semakin berat dan pusing kepala ini.

***

Pelajaran menjadi seorang pria sejati oleh ayahku masuk ke bab berikutnya (pelajaran menjadi pria sejati lainnya silahkan baca diTeletubies Berpelukan) yaitu menjadi seorang yang mandiri. Memang itu yang kupegang teguh hingga sekarang. Termasuk dalam hal materi, karena mulai semester 1 perguruan tinggi, aku sudah meminta orang tua ku untuk menghentikan uang saku, sementara mereka masih sangat mampu untuk menjejalkan jajanan kepadaku. Termasuk dengan hal yang sekarang membuat kepala berat, karena debat terbuka tadi sudah menjadi chaos dan anarkhis persis seperti suporter Aremania yang membumi hanguskan Stadion Kediri.

***

Teman, dalam falsafah Jawa, ada lima hal duniawi yang berkaitan dengan rohani untuk dilengkapi, agar dapat menjadi seorang Pria Seutuhnya. Yaitu:

  1. Wisma (rumah) sebagai tempat bernaung, tak perlu megah yang penting memberikan ketentraman bagi si penghuninya **kalau bisa megah juga ga nolak**.
  2. Garwa (istri) yang melengkapi ketentraman di dalam rumah dalam suka maupun duka, memberikan support dalam bentuk apapun, karena dibalik pria yang hebat terdapat wanita yang luar biasa. Dan menjadi jiwa yang kosong seorang pria tanpanya, karena itulah kodrat seorang wanita: siGARaning nyaWA (belahan jiwa).
  3. Turangga (kuda) yang jaman sekarang dapat berarti kendaran, bisa mengantarkan kemana arah tujuan.
  4. Curiga (Keris) perlambang ketahanan diri dan prinsip yang dipegang teguh untuk membabat segala halangan.
  5. Kukila (Burung) sebagai simbol hobi menghibur dikala penat meraja..

Mau itu diartikan secara tersurat sebagai bentuk materi yang melengkapi hidup seorang pria, atau tersirat sebagai bekal media dan sarana untuk mencapai kehidupan yang lebih bahagia, kelima-limanya memang benar dilihat dari segi manapun. Karena mulai dari jaman patih, terbawa sampai sekarang di jaman pedih, seorang pria dianggap berhasil apabila berhasil memiliki serta memelihara makna kelima elemen ini.

Nah, dari ke lima elemen itu dua hal yang sekarang sedang menjadi dillema-ku **dibelakang Nelly dan Kelly bersenandung untukku**. Keduanya sama penting, dan sama susah dijangkaunya. Sementara kondisi perolehan nilai rupiah di tabunganku pointnya flat, cenderung menurun grafiknya, sehingga aku harus memilih salah satunya untuk dimiliki terlebih dahulu. Wisma atau turangga.

***

Rumah sangat penting artinya. Selain semakin mahalnya tanah dan bahan bangunannya, lahan yang disediakan semakin sedikit. Developer tak bisa melihat tanah kosong sedikit, langsung di buat cluster imut untuk dijadikan lahan hunian. Bisa-bisa saat nanti aku memutuskan membeli rumah, sudah tidak ada lagi lahan kosong yang tersedia untukku, sehingga terpaksa aku harus tinggal di apartemen **somboooooong**, atau jelek-jeleknya rumah susun. Ah, tak mau aku saat terbangun tidur nanti, bukan bumi yang kuinjak. Dan harga yang tak mungkin turun merupakan salah satu sarana paling efektif untuk investasi, dan ini cukup menggoda. Apalagi memikirkan masa depan keluargaku ada di dalamnya **adakah diantara kalian yang bersedia me-noyor kepalaku, untuk sadarkan agar tak melamun terlalu jauh??**

Sedangkan mobil. Nah, sebenarnya ada dendam kesumat antara aku dan mobil, membuatku bernafsu untuk memilihnya terlebih dahulu dibandingkan si rumah. Dilahirkan di tengah keluarga besar tujuh bersaudara. Dua bersaudara di awal perempuan, dan sisa lima ke bawah bujang-bujang bengal. Aku sendiri mendapat nomor urut paling bontot dengan sisa-sisa gen bapak ibu ku.

Ini yang sebenarnya menjadi titik mula dendam ini membara. Saat umurku cukup untuk mendapatkan hak sebuah kendaraan roda empat, bapakku memberikan alasan kenapa tak dibelikannya aku besi bergerak itu,

“Anak tujuh, masak satu-satu mau dibelikan mobil, bisa jadi tambah macet dunia ini”, ungkapnya masih berseragam putih hitam yang di dada sebelah kanannya berbordir dua kuda laut seperti sedang berciuman, lambang sebuah perusahaan minyak pemerintah.

Jadilah yang mendapatkan jatah mobil dua kakak ku yang perempuan, sementara lima anak bujangnya mendapatkan jatah motor Honda GL Pro, satu untuk satu orang. Ini pun bapak punya alasan sendiri,

“Anak lanang beli mobil sendiri, biar mandiri. Jadi jatah mobil buat yang perempuan”, kata bapak waktu itu. Suu’dzon ku waktu itu berpikir, dia mengajari anak prianya untuk mandiri, tapi membuai menantu anak perempuannya kelak. Bahagianya menjadi menantu Bapak Amat Munawar. Beruntung si menantu-menantu ini adalah seorang yang hebat dibidangnya, sehingga tak perlu kuperpanjang masalah ini **peace mba-mba ku!! J**

Dendam yang lain lebih kepada wujud egois masa remaja, atau bisa juga lebih disebut gengsi tak mau direndahkan. Melihat rekan sebayaku hilir mudik naik mobil. Ah, berkelas sekali mereka. Tertawa, bercanda bersama sahabat didalam adem nya AC mobil jatah dari orang tua mereka. Tampak lebih bisa masuk di semua kalangan pergaulan Jogja. Sementara aku berpeluh keringat, mencari nafkah sendiri menunggangi Honda Astrea Grand kemana-mana, yah GL Pro jatah untukku digondol maling tak tahu diri sewaktu aku sedang latihan band **anak band maannn!!!**.

Tapi dendam itu akhirnya berubah menjadi motivasi positif buatku. Dan patutlah aku berterima kasih kepada remaja-remaja ber-mobil itu. Karena telah menorehkan janji mendalam untukku sendiri, kalau aku akan lebih baik dari mereka, dan aku akan membeli materi dunia ber-kaburator ini SENDIRI!! Puncak pembuktianku adalah saat aku berhasil mendapatkan prestasi-prestasi yang jauh lebih membanggakan dari mereka, dan aku berhasil menarik hati seorang wanita cantiiiikk sekali sekaligus menyingkirkan pria sainganku, dengan Honda Astrea Grand yang mengalahkan aura BMW Merah Marun milik si pria. Hahahaha **tertawa licik**.

***

Pelan-pelan kucoba untuk mengatur kembali setting ruang kampanye, karena debat terbuka sebelumnya belum berhasil memutuskan pemenang mutlak. Kususun lagi podium tempat berdiri si mobil dan si rumah serta para pendukungnya. Namun tiba-tiba, tak disangka tak dinyana. Tarrr!! Terdengar letasan yang disertai asap putih yang kelilinginya. Muncul satu lagi podium di tengah podium si mobil dan si rumah. Berdiri angkuh namun terlihat sakral di podium itu, berkostum putih lengkap dengan jubah panjang, tak ketinggalan kembang-kembang melati serta payet yang jadi hiasannya. Dialah Sang Resepsi Pernikahan, siap memuntahkan emosinya karena tak diundang di pemilihan ini.


dari sahabat

18 January, 2008

… membuatku terharu

-terima kasih-


-teletubies berpelukan-

15 January, 2008

Lorong waktu membentuk jaringannya sendiri. Dinding-dindingnya abu-abu cenderung gelap, kasar, bergerak tak beraturan, bagaikan layar kosong tanpa acara. Kilatan cahaya bergabung menjadi satu, silih berganti menampakkan warna-warna yang cerah menuju satu titik yang tampak jauh diujung. Menyeruak disana satu fragmen kehidupan yang bermula tanpa awal, membuat cerita sendiri tanpa ada muqadimah.

“Maafkan aku sayang, aku hanya bisa bersama mu hingga pertengahan tahun ini”, seorang gadis berkerudung, berkulit putih, hidung bangir, dan bibirnya yang indah telah ucapkan kalimat itu, sambil menyandar di balkon rumah tua bertingkat. Tak bisa digambarkan warna-warni suasana saat itu, karena hanya nuansa abu-abu yang mendominasi.

“Sementara di Desember nanti, aku sudah akan mengikat janji suci dengan pria yang telah melamarku”, si gadis melanjutkan perkataannya.

Pria yang berdiri sampingnya hanya bisa terdiam seribu bahasa, membayangkan hubungannya dengan sang gadis yang telah dijalin sekitar 7 bulan harus berakhir di pertengahan tahun ini. Rasa sayang, cinta kasih, dan pengharapan terbesar yang saat ini sedang berdiri di sampingnya telah ucapkan dengungan yang akan merubah tawa menjadi hampa, bahagia menjadi sendu meraja, dan keagungan tersungkur menjadi hina. Belum, ini belum kiamat, tapi kenapa kalimat sang gadis bagaikan tiupan sangsakala penanda akhir jaman.

“Bukankah aku sudah memberi kepastian kepadamu, bukankah aku sudah siap untuk semua, aku merasa hubungan kita baik-baik saja selama ini, dan…….”, pria itu mencoba untuk bicara, meski yang keluar hanyalah pertanyaan-pertanyaan yang lebih bersifat menyangkal pernyataan sang gadis.

“Karena aku sudah memilih dia untuk memilikiku, daripada kamu sayang… Maaf..”. Datar saja gadis itu menjawab, tak ada emosi sedikitpun di jawabannya.

Semakin getir terlihat si pria, hanya bisa menatap kosong sosok didepannya itu. Kalimat pendek itu sudah menjelaskan semua. Memang perkataan sang gadis menyakitinya, tapi yang lebih dalam menusuknya adalah gadis yang telah dikenalnya lebih dari tujuh bulan ini berubah 180 derajat, seakan bukan dia yang sedang berbicara saat ini. Bukanlah gadisnya dahulu, itu yang lebih menyakitkannya. Goresan silet di kulit, ditambah asamnya cuka mungkin lebih disuka sang pria saat ini dibandingkan apa yang baru menimpanya.

Tiba-tiba asap keputihan perlahan menyelimuti fragmen itu, perlahan semakin tebal, menutupi satu demi satu sosok sang gadis yang masih berbicara dan sang pria yang hanya bisa bisu menatap.

Kembali lorong itu membesar meninggalkan alur ujung titik kecil tadi. Kilatan-kilatan cahaya warna-warni tampak lagi, bergabung membentuk sulur yang lebih tebal. Terus melintasi dinding-dinding yang tak jelas berikan gambaran. Semakin meningkat kecepatannya menuju satu permukaan.

***

“Hhhhhhhhhhhhh…”.

Mendadak kutarik nafas panjang, seakan sudah beratus-beratus kilometer aku berlari, sudah 30 menit lebih aku di dalam air, dan lebih dari dua perbukitan aku tempuh menggunakan sepeda, persis seperti seorang atlit Triathlon, olahraga terkejam di dunia. Hanya orang-orang sinting yang urat capai-nya sudah putus, yang ada di dalamnya. Paru-paru yang menciut kini melebar lagi. Degup jantung memburu dengan tetesan keringat di sekujur tubuh. Memang saat ini suhu di Jakarta memuncak tajam, mengalahkan garis demi garis termometer ruangan. Mungkin cuaca sedang rehat bersiap-siap untuk kembali menggempur dengan hujan badainya yang menurut BMG akan meningkat di akhir Januari sampai pertengahan Februari ini. Terdengar sayup-sayup di kamar atas, berita televisi yang meng-update perkembangan terbaru Sang Penguasa Orde Baru. Namun kipas anginku tak kalah seru mengeluarkan suara yang lebih besar dari angin yang dihasilkannya, makan gaji buta.

Kutatap jam duduk digital ku, pukul 11.30 siang. Pantas kamar yang gelap gulita sekarang sedikit remang-remang dengan sinar matahari yang memaksa masuk lewat jendela kawat nyamuk kamarku. Bau hari libur ada di siang ini. Ah ya, ini kenapa aku bisa terbangun sesiang ini.

Tapi kenapa jantung ini tak berhenti kecang degup-an nya, kenapa perasaan ini masih tak tenang, ada sesuatu yang mengganjal kerutan otakku. Ini bukan persoalan logika kurasa, tapi lebih ke persoalan hati. Kuingat-ingat lagi sambil masih melengkungkan posisi tidurku, persis seperti udang yang terkena minyak panas.

Mimpi!!!!

Ya, mimpi itu yang membuat nafas ini terengah-engah, yang membuat jantung ini tak pada ritmenya, gak on beat istilah para penyiar apabila ketukan bicara tak sesuai dengan ketukan backsound. Pantas aku ingin cepat-cepat terbangun **uda jam sebelas juga kalee jaaa!!!**. Rasa sakit dalam dadaku masih terasa, sedikit air mata ada di ujung mataku, bukan, bukan kotoran mata ya, tapi air mata.

Mimpi itu terasa begitu nyata hingga tak mampu bedakan kalau aku sekarang sudah berada di kenyataan. Aku lah sang pria dalam mimpi itu dan sang gadis adalah…, pikiranku berhenti sejenak. Oh tidak, bukan, bukan dia sang kekasih hatiku, jangan bilang ini sebuah kenyataan yang harus kuhadapi. Lebih baik aku masuk ke dalam mimpi itu dan menginterupsi sutradara mimpi untuk berteriak “Cuuuuuutttt”. Jika tidak, akan kuobrak-abrik setting tempat beserta segala macam peralatan syuting mimpi itu, dan kuganti dengan adegan Teletubies sedang berpelukan.

Soalnya bukan begiu skenario dalam alam nyata. Skenario yang benar adalah aku sudah memberikan kepastian kepadanya lebih cepat dari pria manapun. Hanya bermodalkan celana pendek dan kaos oblong aku sudah melamarnya tanggal 24 Desember 2007 kemarin di depan ibundanya tercinta. Sendirian! Yah itu salah satu bab dalam mata pelajaran How To Be a Gentleman oleh Bapak-ku.

“Jangan pernah berani ngawinin anak orang, kalau tidak berani meminta sendiri ke orang tuanya”,

Ucapnya dulu dengan kopiah dan sarungnya yang khas sambil membakar Gudang Garam Merah dan menyeruput kopi – kebiasaan yang sudah ditinggalkannya – disamping pelajaran-pelajaran menjadi “Pria Sejati Memperlakukan Wanita” lainnnya. Yah sendirian aku meminta anaknya untuk jadi pendamping hidupku, diterima!! Kurasa akan menambah panjang paragraf ini kalau kugambarkan perasaanku saat itu. Yang setelah itu berselang 2 minggu, tepatnya tanggal 07 Januari 2007, bapak membuktikan pelajarannya dengan datang sendiri tanpa ibuku, dadakan tanpa persiapan dan tanpa ada seorangpun yang tahu, berangkat menuju Lampung, meminta secara formal anak gadis sang ibu untuk dinikahkan dengan bujang bengalnya yang mungkin belum cukup formal melamar anak orang. Melengkapi pelajarannya waktu aku bolos dulu,

“Lamarlah anak orang dengan berpakaian rapi”.

***

Nah, skenario itu yang seharusnya benar. Masih tak percaya, dalam keaadaan setengah sadar dan mata berkunang-kunang, mataku meraih-raih handphone. Speed dial no 4, langsung tersambung suara di ujung sana yang menenangkanku dan memastikan dirinya hanya milikku seorang. Ah norak ! Cengeng ! Tapi majulah hai para pria yang mengaku paling jantan sedunia, mana diantara kalian yang masih sanggup tegak berdiri dihadapkan kenyataan kehilangan gadis yang sudah kau lamar, kalau tidak otot-ototmu yang kau latih sedemikian rupa akan mengendur bersama aura ke-macho-an mu. Alhamdulillah Ya Rabb, Kau memberi balasan setimpal –di dunia, entah di akhirat nanti- atas terlewatnya aku memberi sesembahan di kala Shubuh.

***

Aku memang bercita-cita dari kecil untuk menikah muda. Sebuah keputusan yang dianggap aneh di jaman gendheng, apalagi untukku yang hidup di kota serba gendheng, dimana busway dibuat untuk memacetkan jalan, dimana banjir dianggap sebuah siklus biasa yang akan dialami setiap 5 tahun sekali tanpa ada pencegahan yang berarti, dimana anak mudanya mengaku dare to be different tapi tetap berdandan hampir sama dengan poni nggemesin dan celana pensil, dimana semboyan individualis “Loe, elo, gw, gw” dipegang teguh, dimana dimana-mana terjadi ke-gendheng-an, termasuk aku yang menjadi sedikit gendheng untuk berterima kasih pada kota yang telah memberiku penghasilan yang luar biasa lebih dari cukup untuk makan ini. “Tapi ini Jakarta bung”. Yah, belalah dirimu kali ini.

Tak sedikit yang kembali mempertanyakan alasanku untuk menikah muda.

“Umurmu masih muda, ga nunggu uda mapan dulu, sayang lho karier mu nanti”

“Sob, bakal banyak club baru yang akan buka, yakin mau nikah?”

“Ga bisa lirik-lirik cewe lagi dong”

“Cobalah dipikir-pikir lagi, mikir biaya berdua, belum lagi nanti kalo uda anak, pembantu yang makin lama makin menggoda **sayang, please jangan karena tulisan ini kamu lebih memilih Somad dari pada Inem untuk bantu-bantu kita nanti**

“Ja, Sex sebelum menikah itu bagaikan Vodca Cola, haram bersoda dan memabukkan. Setelah menikah bagaikan Cola dingin yang baru keluar dari Kulkas. halal dan sodanya menggelitik. Beberapa tahun setelah menikah itu bagaikan Cola dalam gelas dan lama tak diminum, sodanya hilang, hanya tinggal rasa colanya. Loe yakin ja?? “

Memang aku bangga disebut anak yang modern, tapi teman, aku dengan lebih bangga mendeklarasikan bahwa aku masih konservatif menjunjung nilai-nilai kehidupan lama dari para empu jaman dulu, termasuk tentang menikah.

Akan kujawab dahulu satu persatu pertanyaan diatas.:

  • Karier dan keuangan? Teman, mau sampai dimana karier dan uang akan kau kejar tak akan pernah cukup untukmu. Selama itu cukup untuk kalian berdua **dan deposito cukup untuk tujuh turunan** tunggu apalagi. Kasihan air laut menjadi kambing hitamnya untuk peng-ibaratan dua hal –tahta dan harta- ini, bagai meminum air laut. Selain itu aku ingin istriku ikut merasakan bersama susahnya membangun materi kerajaan kecil ini, jangan mau enaknya saja. Kecuali kalau gadismu seorang anak tunggal dari seorang ayah pengusaha terkaya di dunia yang sakit-sakitan, dan nanti dengan cepat harta warisannya hanya akan jatuh ke tanganmu, hahaha **tertawa picik**.
  • Club? Kurasa sebentar lagi tak akan kuat tubuh ini ber-ajojing ditengah dentuman beat progressive dan kepulan asap rokok, yang kurasa akan menimbulkan petir jika tercampur dengan asap efek gunsmoke diskotik, persis seperti awan hitam yang beradu dengan awan putih.
  • Lirik-lirik cewe? Ah, sepengetahuan dan izin kekasihku aku masih bisa lirik-lirik cewek bahkan menggodanya **saat aku melirik kekasihku melotot maksudnya**.
  • Pembantu? Kalaupun harus wanita masih ada Bik Ijah, manula yang aku yakin tak tega aku untuk menggodanya.
  • Sex? Oo, come on. Menikah bukan hanya untuk Sex man. Masih banyak hal lain di dalamnya. Pertegas dulu menikah untuk ibadah. Kalau hanya menuruti cinta monyet dan nafsu monyet menikah hanya akan seumur monyet. Habis manis monyet dibuang. Selain itu masih ada anak, yang akan membuat sisa rasa Cola tadi bagai ditambahkan jeruk lemon dan es batu, tetap segar kan.

Aku yakin komentar selanjutnya adalah,

“Belom ngerasain sie, sekarang aja ngomong gitu, coba aja ntar kalau uda menikah, nyesel dah”

Hihihi. Kalau ini aku tidak bisa membantah, karena aku bukan cenayang yang bisa tahu apa yang terjadi di kemudian hari. Perduli monyet, eh perduli setan. Niat baik butuh action jangan berpikir terlalu lama, sahabatku Ustadz Kun Fayakun berpesan itu. Dan aku yakin inilah salah satu niat baikku. Berkati aku Ya Rabb.

Sambil riyep-riyep memejamkan mata kembali, - berharap masuk ke mimpi, sesuai cita-citaku tadi, mensabotase Sutradara mimpi, mengganti skenario sang Gadis dan sang Pria dengan Teletubies tertawa riang berpelukan – sayup-sayup terdengar ,

“…jika kau menjadi istriku nanti/
pahami aku/ saat menangis…..//
Saat kau menjadi istriku nanti/
Jangan/ pernah berhenti/ memilikiku…/
Hingga ujung waktu……”

(Sheila On7 – Hingga Ujung Waktu)
**my guilty pleasure**

 

 

 

 

 

 

 

 


Lupakanlah….

9 January, 2008

**Tape mobil (numpang teman) – radio mode ON – pilih salah satu frekuensi – acara curhat cinta-cintaan**

Suara penelpon: “.. iya, aku baru aja putus ama pacarku, ga tau, tuh cowo ya, emang sifatnya sama aja, ko ga pernah bersyukur, ngeliat yang lebih benning dikiiit aja, bawaannya nyosor, cape kan lama-lama ngerasa ga dihargain gini, ya uda aku putusin aja. Tapi sekarang malah aku yang kesiksa banget, susah banget buat ngelupain dia ternyata, gimana ya caranya…?”

_____________________________________________________________________

**Macbook (tercintaku) – YM – New Massage**

NN: “Gw baru putus ja”
rajasaadhi: “..lhaaa!! ko bisa.. bukannya uda pacaran lama..”
NN: “nah tu dia ja”
rajasaadhi: “katanya uda pada mau serius”
rajasaadhi: “ga dipikirin dulu”
rajasaadhi: “jangan terlalu cepet ngambil keputusan yang malah bikin nyesel ntarnya”
NN: “..mungkin karena uda terlalu lama itu ya,”
NN: “terus ga ada tujuan yang jelas, ya uda, selesai ajalah”
rajasaadhi: “yakin ga nyesel..”
NN: “sekarang bukan masalah nyeselnya ja”
rajasaadhi:”trus”
NN: “masih kebayang-bayang nie, gimana ya cara ngelupainnya”
____________________________________________________________________

N95 8G Black – 1 New Massage – Inbox

Sender: 0811XXXXXXX

Text: “gw lg kangen bgt ja ma dia,pdhl loe tau ndiri kan, gw uda lm bgt putus ma dia,tapi ko susah banget ya ngelupainnya ja”

_____________________________________________________________________

Padahal kan akhir tahun sampai awal tahun ini, janur kuning bertebaran dimana-mana. Kata teman dekat ku sih, menikahlah sebelum tahun baru Cina di 2008 ini, masih lebih bagus daripada pernikahan itu dilaksanakan di Tahun Tikus. Yang akhirnya dia pun melangsungkan hari bahagianya tanggal 06 Januari 2008 tepat 1 bulan lebih 1 hari sebelum tahun baru Cina yang jatuh di tanggal 07 Februari 2008 (Yess!! Harpitnas). Memangnya ada apa dengan tikus? Bukannya tikus beranak banyak, atau tikus juga menganut paham sex bebas seperti buaya?? Sepertinya aku harus lebih memperhatikan secara seksama tayangan kehidupan binatang di televisi, daripada hanya sekedar menyaksikan acara artis dan si mama yang berdurasi hampir 240 menit!! Sehingga aku bisa menjawab pertanyaan itu.

Kalau pikiran nakalku menjawab, kenapa “Mereka Yang Berbahagia” mengejar deadline di akhir dan awal tahun ini. Yaa, karena ini musim penghujan, “Malam Pertama” pun jadi lebih syahdu dengan aromaterapi romantis bau hujan, dan ritme harmoni melankolis rintiknya.

Ya itu tadi, disaat semua pasangan sedang berbahagia menginjakkan dirinya di satu level fase kehidupan yang lebih tinggi lagi, banyak juga individu-individu yang tersiksa dengan kehilangan sebagian hatinya. Terbukti dari paragraf pembuka di atas. Mulai dari radio, surat pembaca di media, headline majalah remaja, bahkan sampai memasuki area pribadiku, YM dan SMS, belum termasuk telepon tengah malam yang hanya bersuara isakan tangis curhat cinta. Masih untung aku ingat sebelum terlelap tadi, doa dan 3 kali ayat kursi sudah kutugasi menjaga tidurku, kalau tidak sudah kuanggap kuntilanak suara diujung sana. **Please jangan dibahas lagi urusan kuntil-kuntilan, tulisan ini aku buat di pukul 00.06 malam**

Ternyata bukan masalah putus cintanya, jomblo abadi, atau kisah klasik percintaan yaitu selingkuh. Itu memang bagian yang menyakitkan. Tapi ternyata di adegan “Melupakan” yang terlalu sulit bagi mereka untuk mengambil peran. Orang yang berani mengambil resiko untuk Jatuh Cinta, berarti memang siap untuk ”Jatuh”. Dan balita pun tahu, kalau jatuh berarti sakit, seperti sang balita mengartikan api sama dengan panas.

***

Menghilangkan perasaan-perasaan yang menyebabkan “jatuh” itu yang aku anggap dengan ”Melupakan” atau bahasa anak ABG berponi Ngelupain. Didalamnya ada melupakan perasaan yang masih ada untuk pasangan, melupakan perasaan sakit hati yang menyebabkan perpisahaan, melupakan kenangan-kenangan indah bersamanya, melupakan jalan yang pernah dilewati bersama dengan sepeda mini yang stangnya berumbai dan dibelakang dia memeluk erat sambil mengurai rambutnya yang berkilau **mulai norak, kembali ke jaman 80’an”

Disini aku ingin berbagi, siapa tahu bisa sedikit membantu para individu yang sedang ingin terbebas dari siksaan sang Ngelupain ini. Dan ini berguna untuk semua gender. Percayalah teman, aku adalah salah satu dari sekian banyak yang juga pernah merasakan Jatuh cinta sekaligus Jatuh “sakit” Cinta, dimulai dari seragam ku yang masih putih merah di kelas 2 SD sampai ku bisa memakai baju kantor layaknya executive muda **somboooong!!** seperti sekarang, dan itu tidak hanya sekali, tapi berulang kali.

Kita mulai:

      1. Mulai dari dirimu sendiri.

    Kalau tidak dirimu yang memulai, terus siapa lagi. Apa mengharapkan bapak dan ibumu yang melupakan dia, lebih sadis lagi, biar nenek saja yang merasakan penderitaan cinta ini.

    Siapkan hati, kuatkan denyutnya, lancarkan peredaran darah menujunya, dan yakinkan kalau kamu memang mau melupakannya. Hanya dirimu sendiri yang mampu menjadi Sang pemimpin dari perasaanmu. Itu juga kalau tidak mau jalan ditempat dan tidak maju-maju karena masih sibuk menangisi sakit dan perih nya hati ini. Ah, seperti TKW korban kekerasaan yang hanya bisa menangis di pojok kamar tanpa mampu melapor ke kedutaan karena takut pada sang majikan.

    2. Jauhkan dari segala sesuat yang berkaitan dengannya.

      Foto berdua segala posisi, surat cinta beribu kata rayu, jepit rambut yang masih tersisa helainya, tiket nonton “Titanic” bersamanya, sapu tangan wangi parfume favoritenya, tissue berbekas gincu gocengan bukti ciuman pertamanya untukmu **hah, ciuman pertama hanya lewat tissue, malangnya nasibmu nak**, Jam tangan Guess pemberian darinya, baju Nautica yang kesempitan, jeans Zara belel ** tiga item terakhir mungkin ada pikiran ingin menghibahkan untukku??**, serta item-item bersejarah kalian berdua yang lain, yang jika memandangnya saja bisa otomatis merangsang urat disekitar mata untuk mengeluarkan cairan asam dan zat gizi layaknya sedang mengiris bawang. Singkirkan itu semua!!! Jangan dibakar, terlalu sinetron dan semakin memperparah dampak global warming. Siapkan saja kotak khusus untuk menyimpannya. Dan berjanjilah pada dirimu sendiri (ingat sekali lagi hanya dirimu) untuk tidak membukanya sebelum hatimu mampu berpaling darinya.

      Pada saatnya nanti kotak itu terbuka dan barang-barang itu menyeruak bersama senyuman dari bibirmu, teringat masa lalu yang hanya jadi sekedar cerita lucu, saat itulah dirimu sudah melupakannya.

      3. Don’t try too hard

        Semakin kuat melupakan dia, maka semakin susah untuk melupakan dia. Kenapa? Karena ada kata ganti orang ketiga tunggal “Dia” yang berwujud seorang yang pernah paling tampan/ cantik dan paling baik sedunia membentuk dipikiran yang dipaksakan itu. Let it flow. Biarkan dia terbang bersama hari-harimu, biarkan dia tenggelam di tawa canda mu bersama sahabat, biar dia tak berwujud di tengah kesibukanmu, biar dia terkubur lambat laun bersama jiwa yang tak ada lagi kata “Dia”.

        4. Find the other

          Di dunia ini wanita beranggapan jumlah laki-laki memang lebih sedikit dari pria, makin sedikit ditambah yang laki yang ragu-ragu dengan kelaki-lakiannya. Dan pria beranggapan wanita lebih banyak daripada laki-laki, minus nenek-nenek dan anak kecil tentunya. Buang sejenak teori jumlah gender itu. Dihadapanmu digelar pria dan wanita yang buatku sendiri pun sulit untuk menghitungnya. Pilihlah salah satunya untuk meringankan beban derita itu. Sibukkan diri dengan teman lain jenis itu, tapi ingat jangan jadikan pelampiasan, sangat tidak fair itu. Siapa tahu dialah Sang malaikat penyelamat cinta dari keterpurukan. Kalau memang tidak, yaaa itung-itung hiburan (ingat, ini untuk semua gender). **Dan aku cukup canggih di bagian ini J. Ingin tahu tips nya, tunggu artikelnya dilain waktu **

          5. Kalimat Mujarab

            “Dia bukan yang terbaik untukku, semua sudah ada jalannya, siapa tahu ada hikmahnya”

            Ini bisa jadi kalimat yang paling mujarab dan bisa jadi penghibur paling ampuh sedunia. Bukan hanya berguna di dunia percintaan, tapi juga di segala lini keterpurukan kehidupan. Bukti bentuk kepasrahan seorang hamba kepada Sang Pengatur Jalan Kehidupan. Coba deh, saat kamu mulai teringat tentang dirinya, senandungkan kalimat ini di otakmu, perdalam makna tersirat didalamnya, dan percaya akan setiap katanya. Ini ilmu paling susah yang diajarkan Pak Haji di “Kiamat Sudah Dekat” untuk menantang calon menantunya: Ilmu Ikhlas.

            ***

            Bukan bermaksud menggurui, karena aku bukanlah seorang guru, apalagi menceramahi, karena aku bukan seorang Kiai. Tapi hanya ingin hidupmu tidak hanya stuck di satu tempat disebabkan seorang yang telah berhasil memporak porandakan hati dan pikiran yang terjaga baik oleh mu sendiri. Bayangkanlah, masih banyak senyum-senyum manis yang menunggumu didepan sana.

            Seperti aku sekarang yang sedang berusaha untuk melupakan rasa lapar tidak makan malam karena diet ketat-menyiksa-tidakberguna-berantakan ini sambil membayangkan senyumku sendiri memandang my-future-six pack.

             

             

             


            cabai dan terasi….

            3 January, 2008

            Lahir saat usia ibuku hampir 36 tahun, usia yang sudah rawan untuk melahirkan satu nyawa lagi ke dunia ini, apalagi ini adalah persalinannya yang ke tujuh. Tapi dengan ikhlas beliau sang “Jiwa yang menyejukkan” dan tidak sombong meski surga ada dibawah telapak kakinya, dengan senyum menyambut rengekan pertama ku di dekapan paling hangat dan aman sedunia, tepatnya di hari Rabu Wage, 18 Agustus 1982 jam 10.00 pagi, bersama seorang suster yang bernama Suster Danir, seorang suster yang juga tak kalah hangatnya dengan ibuku, yang kelak anaknya yang sebaya dengan ku menjadi anak susu ibuku.

            “Kau itu anak spiral”. Dengan logat Palembang yang kental beliau selalu mengingatkan asal-usul ku.

            “Oo, jadi Adhi bukan anak bapak ama ibu ya”, si kecil yang lugu cenderung sedikit bodoh menjawab sekenanya pernyataan ibu.

            Yah, memang begitulah asal-usulku, disaat program KB sedang gencar-gencarnya di kampanyekan pemerintah saat itu dengan slogan “Dua anak cukup”, meski sedikit telat dipatuhi oleh keluarga ku, karena setelah beranak enam, baru ibu memasang spiral – salah satu alat KB disamping alat kontrasepsi, suntik, dan pil, tidak termasuk dukun aborsi -.

            “Copot spiral, eee nongol kau nang”, si ibu masih menceritakan asal-usulku dengan nada diatas 3 oktaf, memanggilku dengan panggilan kecil Adhi dan Nang, kependekan dari anak lanang atau anak laki-laki.

            “Umur sudah tuo, tapi masih harus ngelaherke, biji mato lah merah cak darah, darah tuh muncrat ke dinding rumah sakit, perang nyawo ibu kau ni ngelaherke kau nang, makanyo jungkir jempalik tangan di kaki, kaki ditangan kau kalo durhako samo ibu kau ni”, (terjemahan bebas sekali: “Umur sudah tua, tapi masih harus melahirkan, bola mata sudah merah seperti darah, darah menciprat ke dinding rumah sakit, perang nyawa ibu mu ini melahirkan kamu, makanya jungkir balik tangan di kaki kaki di tangan kamu kalau durhaka dengan ibu mu ini”) ibunda tercinta ku sedang mengajarkan nilai moral yang kutangkap pertama kali saat itu: aku akan dengan mudah menjadi pemain sirkus bila durhaka dengan ibunda ku tersayang.

            Ah ibu ku, meski dengan mudah mencapai nada 3 oktaf meskipun hanya dalam berbisik, karena begitulah mungkin orang Palembang asli dalam berbicara, meskipun berbicara hanya dalam jarak sejengkal didepan muka, tidak akan puas jika belum berbicara seperti bicara dari puncak satu bukit ke puncak bukit yang lain, plus dengan kata-kata yang sulit diterima oleh sebagian orang, kasar sekali. Tapi aku tahu, ada kelembutan yang sangat di hatinya, kelembutan yang mengalahkan lenggak-lenggok penari Bedhaya di keraton Nyayogyokarto, kelembutan yang mengalahkan tutur kata seorang putri sekalipun, atau aku kira kapas pun akan tak percaya diri jika dihadapkan dengan hati ibu ku.

            ***

            Tak akan cukup aku kira halaman blog ini, huruf yang disediakan, kosa kata dalam kamus, dan kalimat berjuta paragraf untuk menceritakan betapa banyak kisah yang sudah kulalui dengannya. Mulai dari menyuapi ku setiap waktu **karena tangannya bagai tangan malaikat, setidakenaknya makanan, akan terasa enak jika itu disuapi dari tangannya** dan mengajarkan ku untuk makan-makanan yang pedas, dengan sedikit mencicipiku daging balado dan kacang teri yang pedas disaat umurku 2 tahun,

            “ Anak lanang tuh musti seneng makan pedes, kagek kalo la besak dak susah makannyo” (Anak laki-laki itu harus seneng makan pedes, nanti kalau sudah besar tidak susah makannya) dan terbukti sekarang mau ditaruh dan dilempar dimana saja aku berada, asalkan disana ada cabai dan terasi, maka aku takkan mati kelaparan.

            Yang dengan sabar memenuhi kebiasaan memalukan, yang kalau kulakukan saat umurku yang bangkotan sekarang, pastilah akan dihukum rajam olehnya. Yaitu: mentil (mentil adalah : kebiasaan seseorang untuk memilin-milin…. Ah sudahlah tak etis kutulis di blog yang dibaca semua kalangan usia ini). Dan teman, kebiasaan itu berlangsung hingga aku kelas 2 SD, bayangkan kelas 2 SD. Anak yang sudah bisa mendeklarasikan kalau dia telah mampu merasakan yang namanya naksir, namun sampai dirumah tetap pada kebiasaan memalukannya. Apalah kata gadis-gadis lugu yang ditaksirnya itu. Bahkan pernah suatu saat ibu ku sudah siap untuk menghadiri sebuah pertemuan Dharma Wanita dengan baju terusan yang pasti memakainya harus memasukkan kepala dan lengan secara bersamaan, susah intinya, sementara matahari sudah terang diluar sana terlihat dari jendela-jendela yang sudah terbuka lebar, di spring bed anak tak tahu malu ini masih tertidur nyenyak, dan tiba-tiba terbangun sambil merengek,

            “Ibuuu’, mentiil…..!!!!”, sang ibu dengan sabar kembali menutup jendela kamar dan membuka baju terusan yang sangat susah memakainya itu, hanya supaya anak ini tak terganggu tidurnya dan bisa kembali pulas menikmati mimpi-mimpinya menjadi Megaloman. Andaikan pada saat itu aku yang menjadi sang ibu pasti sudah kucarikan kambing muda untuk kusodorkan didepan muka nya sambil menghardik,

            “Mentil sana sama kambing…!!!”

            Atau mengantarkan ku ke SD 1 Tamansiswa LNG Arun Lhokseumawe dengan motor Honda Astrea 800 merah. Keranjang didepan berisi setumpuk sayuran, cabai dan tak ketinggalan terasinya, tangan satu memutar perlahan gas motor, sementara tangan yang lain memegangi tangan mungilku yang memeluknya erat dibelakang jok motor memastikan anak bungsunya ini aman dalam lindungannya. Padahal aku tahu untuk menjaga keseimbangan motor saja ibu sudah sangat susah, apalagi jika harus sambil menjaga anaknya ini.

            Sampai menikmati polah dan tingkah ku yang sedang menikmati masa puber yang kuanggap adalah masa paling egois. Dimana tak kuhiraukan semua kata-katanya, tak kuturuti lagi perintahnya demi hanya sekedar menyuruh mengambil gelas penahan panas yang berisi kopinya, tak mengantarnya lagi ke pajak pagi ( :pasar) tempatnya merasakan kenikmatan duniawi setelah dapur. Bahkan sekali waktu saat aku masuk angin karena terlalu sering keluar malam dan beliau ingin meng-kerik punggungku untuk mengeluarkan angin jahat, aku malah menghardiknya, tindakan yang dimurkai sang Nabi yang bahkan melarang kita sekedar mengucap kata “Hush!” pada seorang ibu. Menganggap tindakannya tadi hanya akan membuat seorang remaja yang terbiasa wangi minyak senyongnyong menjadi bau minyak angin.

            Ingin sekali diriku yang sekarang jika bisa meminjam mesin waktu Doraemon atau melakukan lompatan ke masa lalu seperti dalam film Quantum Leap, kembali ke masa itu, dan men-jungkir jempalik-kan Adhi puber, membuktikan itulah balasan anak yang durhaka.

            ***

            Sekarang dia hanya dapat terduduk, kehilangan energinya yang mampu menyeimbangkan motor Honda Astrea 800 – yang sudah dihibahkan ke seorang anak angkat – full muatan dengan satu tangan. Alih-alih menyeimbangkan sepeda motor, menyeimbangkan diri nya sendiri saat berjalan saja dia sangat kesusahan, dikarenakan osteoporosis yang menggerogoti tulang-tulang tua yang menyokong berat badannya.

            “Ibu kau ni banyak keilangan kalsium mungkin karena ngelahirin tujuh besodara, dan dak abis ngasih ASI buat tujuh-tujuh nya”, Tak ada yang berani menyangkal teori kalsium seorang ibu yang melahirkan tujuh anaknya secara normal, dan dengan lancar memberikan ASI kepada ke tujuh-tujuhnya.

            Duduk dia di kursi kebesarannya, sebuah kursi kayu sederhana berwarna coklat, di sudut dimana dia dapat dengan leluasa menyaksikan ketujuh anak nya yang sudah besar-besar saling melempar candaan, sambil menyaksikan ketujuh cucu nya memamerkan kebolehannya masing-masing. Mungkin ini lah obat paling mujarab untuknya, puncak kepuasan batinnya, yang kata para dukun adalah salah satu cara jitu yang mampu menangkal serangan ilmu hitam manapun setelah menanam tanaman kuping gajah di depan rumah.

            Sambil memandangi anak dan cucu nya, dia sedikit sunggingkan senyum. Dimatanya, masih kuat memancarkan energi kesabaran. Energi cinta kasih yang tak tersentuh osteoporosis atau penyakit manapun juga. Energi yang menyiratkan keinginan melihat anaknya bisa tumbuh besar dan bersinar layaknya titik embun dipagi hari yang selalu setia melekatkan diri pada kelopak bunga, sekedar hanya ingin melihatnya bersinar pabila nanti dipandang orang. Energi pengorbanan untuk anak-anaknya, tak perduli cobaan apapun juga, bagai pengorbanan Siti Hajar yang berlari mondar-mandir sebanyak tujuh kali dari bukit Shafa dan Marwah sambil kebingungan hanya untuk mencarikan setetes air untuk Ismail putranya yang kehausan. Dan energi-energi positif lainnya yang menghangatkan kami ketujuh anaknya seakan-akan energi itu melebur menjadi bohlam kecil namun besar artinya untuk proses menetasnya telur-telur.

            Dan kami sudah “menetas” bu, bahkan bisa berdiri dan mencari makan kami sendiri, tentu dengan lindungan energi positif mu yang mendarah daging sampai ke urat terhalus di tubuh kami.

            ***

            Dengan daster kelelawar made in Bringharjo nya, dia masih keliling hilir mudik kamar tidur dan dapur dengan tergopoh-gopoh, dan menyisakan bau keibuan disekelebatannya menutupi bau balsem yang dioleskan di kening dan betisnya, hanya untuk menepati janji pada masa kecilku, memasakkan makanan pedas, serta mengulek cabai dan terasi untukku.

            Sambil “berbisik” dengan nada 3 oktaf kebanggaan yang mungkin sekarang hampir di level 4 oktaf , dengan birama ¾,

            “Naaaaang, sambelnya sudah jadi, makaaaaannn !!!! “


            -isi jadi lebih “isi”-

            2 January, 2008

            Kubuka perlahan pintu kamarku, berderit karena lama tidak diminyaki, suara deritannya parau, harmonis dengan paraunya jeritan hati ini mengetahui kenyataan yang sebentar lagi akan terhadapkan didepanku saat tahu isi dibalik pintu ini. Tak ada “isi”. Yah itu isi dari kamarku, sekarang tak ada “isi”.

             

            Setelah hampir tiga hari ini ber”isi” perasaan indah, tawa-tawa yang tulus, obrolan seru tentang masa depan, ekspresi penerimaan kado yang aku berikan 2 minggu sebelum dia berulang tahun karena takut tidak punya kesempatan untuk memberikan pas pada waktunya, dua tubuh raksasa yang menghisap dinginnya suhu kamar, kejahilan yang lebih cenderung ke penyiksaan, dan banyak lagi hal lain yang membuat kamar ini lebih berisi, sekarang tak ada “isi”.

             

            Hanya desiran angin malas dari kipas Maspionku, hanya tempat tidur single bed jatah kost yang tertata rapi, hanya perangkat tv dan tetek bengeknya, hanya karpet, hanya gantungan baju dan celana yang sudah menumpuk, hanya tawa anak kost yang mulai berdatangan dari libur panjang tahun baru mereka, hanya itu. Tapi tetap tak ada “isi”

             

            Atau mungkin sebenarnya kamar ini ada isi seperti layaknya kamar-kamar yang lain, tapi hanya hati ku yang kehilangan “isi” dan bagiannya yang lain.

             

            Ahh, aku hanya bisa berharap, cepat dipertemukan lagi dengan bagian hatiku itu, agar tak hanya kamar, tapi Dunia ini, menjadi ber “isi” lagi.

             

             

            ** untuk pemenang hatiku, yang selama tiga hari ini rajin mengunjungiku, yang sudah kembali lagi ke kotanya bekerja, ahh long distance….**


            -mencintai hati-

            2 January, 2008

            Ini pertama kalinya aku menulis dengan “serius”. Bukannya dulu tidak pernah serius, tapi serius ini “serius” yang berbeda. Kalau dulu mungkin keharusan menulis serius wajib fardlu ‘ain, satu persatu, runut, dan tepat sesuai dengan yang diharapkan, kalau tidak ya bisa terbayang tersentuh panasnya ponten yang memerah di raport. Hanya sebatas itu. Menulis serius menjawab soal Essai.

            Karena kalo pilihan ganda ya pastinya bukan tulisan, hanya tanda silang di salah satu jawaban, atau sebagian peraturan mangharuskan nya berbentuk tanda bulatan, dan itupun boleh jadi sewaktu-waktu tidak diperlukan keseriusan, entah karena pelajaran yang dihapal semalam menguap bersama angin malam yang mendayu-dayu, bagaikan nina bobo dan usapan di punggung (cara paling mujarab yang bisa jadi obat bius berkadar tinggi untukku), atau merembes di pori-pori otak yang terlalu besar sehingga tak menyisakan sedikitpun ampasnya.

            Bisa jadi juga karena,

            “ Yak, waktu tinggal 2 menit lagi, selesai tidak selesai dikumpulkan..”

            Peringatan terakhir layaknya raungan sirine saat pearl harbour kedatangan pasukan Nippon, yang berarti semua jawaban harus sudah terisi, entah itu benar atau menyalahi semua fakta yang sudah susah payah dikarang oleh sang penulis dan dijilid dalam buku pelajaran. Sehingga membuat kancing baju dan nyanyian sumbang, “..tokek..tokek … (jangan brani-brani mengganti salah satu hurufnya dengan huruf “t”, nanti jadinya “totek” halah..)“, menjadi sedikit lebih berguna. Ingat hanya sedikit, sisanya, “ Serahkan saja pada yang di Atas, Dialah yang Maha Tahu”, doa seorang yang sudah mencapai titik kepasrahan namun digaris bawahi tanpa usaha.

            Yah mungkin begitulah dunia pendidikan kita, dimana soal pilihan ganda lebih banyak daripada soal essai, sehingga membuat para anak didiknya malas berkreasi dengan tulisan. Mungkin karena para pemeriksa malas memeriksa dengan membaca jawaban, namun lebih enak jika memeriksa jawaban pilihan ganda dengan membuat kertas yang sudah dibolongi sesuai dengan kunci jawaban, dan dipaskan ke lembar jawaban, kalau pas berarti benar, kalau tidak ya, coreett!!. Tapi apa tidak pernah terpikir oleh para pemeriksa betapa tersiksanya para pembuat soal, mereka harus membuat soal yang panjang plus dengan pilihannya untuk soal pilihan ganda. Berbeda dengan negara lain, tak usah jauh-jauh, temanku yang bersekolah di salah satu public school di Australia bercerita membutuhkan 30 halaman hanya untuk menjawab 6 soal ujiannya. **du du du**

            ***

            Kalau soal membaca, nah ini salah satu hobi utama ku. Bukan ingin dianggap intelek saat interview kerja dengan menyebutkan membaca menjadi salah satu hobi **jawaban standar jika ditanya hobi saat interview kerja “Musik, travelling, dan MEMBACA”, tinggal dirubah saja urutannya**. Tapi memang itu hobiku, mau apalagi.

            Buku-buku memang sudah menumpuk di deretan penahan yang diletakkan di atas lemari pakaianku, tempat yang multifungsi kalau kubilang. Selain berguna sebagai tempat meyimpan baju –karena memang sudah kodratnya begitu-, ruang atas yang masih kosong dapat dijadikan tempat menaruh beragam benda yang sudah tak ada tempat untuk mereka, yaah dengan ukuran kamar 4,5 x 2,5 m apalah yang bisa kuharapkan.

            Berantakan mereka di setiap koloni-koloni nya, bagai kelompok yang memisah sesuai dengan fungsinya masing-masing. Hal-hal yang berbau perut (bau banget brarti ya) seperti margarine, roti tawar, susu, saos, dan kecap, disusun disudut kanan atas bersebrangan dengan satu plastik refill tissue. Disebelahnya ada setrika beserta cairan pelicinnya. Diagonal dari setrika berjejer produk-produk ketampanan (ya iyalah ketampanan, kalo kecantikan emang eike apaan neekk!!) yang tidak perlu disebutkan secara mendetail, takut kalau resep ketampananku dicuri banyak orang **DARR!!! tiba-tiba petir menghantam, “Azab orang standar mengaku tampan” judul yang muncul perlahan **.

            Nah, dibelakang tengah itu berderet buku-buku yang 100% sudah habis kubaca, – yang kebanyakan buku-buku novel fiksi dan non fiksi-, kecuali buku Riwayat Nabi Muhammad karangan H.M. Al Hamid Al Husaini setebal lebih dari 1000 halaman. Belum selesai dibaca karena aku membutuhkan waktu khusus dan moment yang pas untuk menghayati riwayat Beliau mulai dari sebelum lahir hingga menghadap Kekasihnya **semoga bukan pembelaan diri yang berlebihan**

            ***

            Buku-buku boleh berderet dan habis kulahap lembar demi lembar, begitupun majalah-majalah yang halaman demi halamannya sudah terangkum di otakku **dapat diambil kesimpulan, hanya majalah yang berhasil terangkum di otakku J **. Tapi kenapa hanya membaca!!!! Aku juga ingin bisa menulis seperti ratusan pengarang yang berhasil menelurkan karyanya. Yang tak hanya berhasil mempersembahkan karya-karya mereka, namun lebih jauh bisa menginspirasi jutaan pembacanya, mempengaruhi alam bawah sadar mereka, merangsang keinginan terpendam, dan aku rasa puncak dari keberhasilan mereka adalah membawa masuk si pembaca kedalam karya-karyanya, mengunakan salah satu anugrah terhebat yang diberikan Tuhan: Imajinasi!

            Tapi tak apalah, tak ada kata terlambat, bukankan output juga membutuhkan input. Layaknya seorang pembicara yang baik pasti lah harus menjadi pendengar yang baik, kira-kira seperti itu pendapat Larry King – yang ini aku agak pesimis masih dipegang oleh wakil-wakil rakyat kita, bicara saja kadang masih seperti orang yang meracau, apalagi untuk menjadi seorang pendengar yang baik, tapi sudahlah, politik bukan bidangku, biarlah itu menjadi obrolan sekedar pembunuh waktu dengan sopir taxi, apalagi kalau dia bersuku batak, yang menurut pengamatanku jauh lebih senang diajak ngobrol jika topiknya tentang politik – . Kembali ke soal teori input dan output tadi yang aku rasa juga bisa di aplikasikan ke dunia tulis menulis. Karena menulis juga membutuhkan membaca, apapun itu. Termasuk membaca yang paling sederhana, membosankan, namun berisi jutaan kosa kata yang jadi modal untuk menulis, yaitu membaca kamus.

            Dan aku rasa, yang aku lakukan selama ini adalah menumpuk input itu hingga pada saatnya nanti bisa menjadi sebuah output, sambil berdoa semoga inputnya tidak keburu basi dimakan waktu karena terlalu lama ditumpuk.

            ***

            Sebenarnya ada beberapa hal yang akhirnya menggerakkan hati dan tanganku untuk menulis:

            1. Sahabatku Dimas Novriandi (semoga aku pun menjadi sahabat untuknya) dengan blog-blognya yang inspiratif, sehingga membuat ku sejenak melepaskan penat kerjaanku, dengan mencuri waktu membaca tulisan-tulisan di blog nya **disamping window friendster dan YM pastinya**. Teman dari dunia kompetisi di Jogja, seorang pecinta sekolah sampai menyelesaikan skripsi dan tesis secara bersamaan, seorang yang darinya aku belajar kata “Friendship Management”, dan yang sekarang menginspirasiku untuk menulis. (silahkan berkunjung ke blog nya di http://dimasnovriandi.com) Terus kutunggu tulisan-tulisan baru mu dim.
            2. Andrea Hirata dengan novel-novelnya, terutama Laskar Pelangi yang tersusun bersama buku-buku berderet tadi (baca paragraf “buku-buku berderet….), bersama pengarang-pengarang kondang dunia, namun justru yang paling mengena di hatiku. Yang menyadarkan aku betapa beruntung nya masa kecil sampai dewasaku, dan betapa bodohnya aku melewatkan berjuta kesempatan yang dihadapkan namun sedikitpun tak kuacuhkan.

            Jujur, belum pernah ada karya tulis yang pernah berhasil aku buat. Eh, sebentar, kalau tidak salah aku dulu pernah membuat karya tulis dalam rangka ulang tahun kampusku, namun tidak menang, atau bahkan ditaruh ditumpukan paling bawah setelah dibaca, karya tulis yang mengangkat betapa megahnya kampus ku dari sisi yang berbeda sehingga berisikan orang-orang individualis sampai-sampai tidak mengenal nama teman satu almamaternya, termasuk aku didalamnya.
            Begitu juga karya tulis wajib semua mahasiswa: skripsi, yang di kampusku menjadi mata kuliah pilihan, pun tak kuambil, praktis karya ku dalam dunia ini: nol!!.

            Ahh, tapi persetan dengan karya-karya tulis itu, aku hanya ingin menulis sebagai ungkapan gembira, sedih, timbul, tenggelam, berkaca-kaca, terharu, bahagia, sakit, dan berjuta gambaran kaya perasaan dari hatiku.

            ….Dan aku mencintai hati ku …