cabai dan terasi….

Lahir saat usia ibuku hampir 36 tahun, usia yang sudah rawan untuk melahirkan satu nyawa lagi ke dunia ini, apalagi ini adalah persalinannya yang ke tujuh. Tapi dengan ikhlas beliau sang “Jiwa yang menyejukkan” dan tidak sombong meski surga ada dibawah telapak kakinya, dengan senyum menyambut rengekan pertama ku di dekapan paling hangat dan aman sedunia, tepatnya di hari Rabu Wage, 18 Agustus 1982 jam 10.00 pagi, bersama seorang suster yang bernama Suster Danir, seorang suster yang juga tak kalah hangatnya dengan ibuku, yang kelak anaknya yang sebaya dengan ku menjadi anak susu ibuku.

“Kau itu anak spiral”. Dengan logat Palembang yang kental beliau selalu mengingatkan asal-usul ku.

“Oo, jadi Adhi bukan anak bapak ama ibu ya”, si kecil yang lugu cenderung sedikit bodoh menjawab sekenanya pernyataan ibu.

Yah, memang begitulah asal-usulku, disaat program KB sedang gencar-gencarnya di kampanyekan pemerintah saat itu dengan slogan “Dua anak cukup”, meski sedikit telat dipatuhi oleh keluarga ku, karena setelah beranak enam, baru ibu memasang spiral – salah satu alat KB disamping alat kontrasepsi, suntik, dan pil, tidak termasuk dukun aborsi -.

“Copot spiral, eee nongol kau nang”, si ibu masih menceritakan asal-usulku dengan nada diatas 3 oktaf, memanggilku dengan panggilan kecil Adhi dan Nang, kependekan dari anak lanang atau anak laki-laki.

“Umur sudah tuo, tapi masih harus ngelaherke, biji mato lah merah cak darah, darah tuh muncrat ke dinding rumah sakit, perang nyawo ibu kau ni ngelaherke kau nang, makanyo jungkir jempalik tangan di kaki, kaki ditangan kau kalo durhako samo ibu kau ni”, (terjemahan bebas sekali: “Umur sudah tua, tapi masih harus melahirkan, bola mata sudah merah seperti darah, darah menciprat ke dinding rumah sakit, perang nyawa ibu mu ini melahirkan kamu, makanya jungkir balik tangan di kaki kaki di tangan kamu kalau durhaka dengan ibu mu ini”) ibunda tercinta ku sedang mengajarkan nilai moral yang kutangkap pertama kali saat itu: aku akan dengan mudah menjadi pemain sirkus bila durhaka dengan ibunda ku tersayang.

Ah ibu ku, meski dengan mudah mencapai nada 3 oktaf meskipun hanya dalam berbisik, karena begitulah mungkin orang Palembang asli dalam berbicara, meskipun berbicara hanya dalam jarak sejengkal didepan muka, tidak akan puas jika belum berbicara seperti bicara dari puncak satu bukit ke puncak bukit yang lain, plus dengan kata-kata yang sulit diterima oleh sebagian orang, kasar sekali. Tapi aku tahu, ada kelembutan yang sangat di hatinya, kelembutan yang mengalahkan lenggak-lenggok penari Bedhaya di keraton Nyayogyokarto, kelembutan yang mengalahkan tutur kata seorang putri sekalipun, atau aku kira kapas pun akan tak percaya diri jika dihadapkan dengan hati ibu ku.

***

Tak akan cukup aku kira halaman blog ini, huruf yang disediakan, kosa kata dalam kamus, dan kalimat berjuta paragraf untuk menceritakan betapa banyak kisah yang sudah kulalui dengannya. Mulai dari menyuapi ku setiap waktu **karena tangannya bagai tangan malaikat, setidakenaknya makanan, akan terasa enak jika itu disuapi dari tangannya** dan mengajarkan ku untuk makan-makanan yang pedas, dengan sedikit mencicipiku daging balado dan kacang teri yang pedas disaat umurku 2 tahun,

“ Anak lanang tuh musti seneng makan pedes, kagek kalo la besak dak susah makannyo” (Anak laki-laki itu harus seneng makan pedes, nanti kalau sudah besar tidak susah makannya) dan terbukti sekarang mau ditaruh dan dilempar dimana saja aku berada, asalkan disana ada cabai dan terasi, maka aku takkan mati kelaparan.

Yang dengan sabar memenuhi kebiasaan memalukan, yang kalau kulakukan saat umurku yang bangkotan sekarang, pastilah akan dihukum rajam olehnya. Yaitu: mentil (mentil adalah : kebiasaan seseorang untuk memilin-milin…. Ah sudahlah tak etis kutulis di blog yang dibaca semua kalangan usia ini). Dan teman, kebiasaan itu berlangsung hingga aku kelas 2 SD, bayangkan kelas 2 SD. Anak yang sudah bisa mendeklarasikan kalau dia telah mampu merasakan yang namanya naksir, namun sampai dirumah tetap pada kebiasaan memalukannya. Apalah kata gadis-gadis lugu yang ditaksirnya itu. Bahkan pernah suatu saat ibu ku sudah siap untuk menghadiri sebuah pertemuan Dharma Wanita dengan baju terusan yang pasti memakainya harus memasukkan kepala dan lengan secara bersamaan, susah intinya, sementara matahari sudah terang diluar sana terlihat dari jendela-jendela yang sudah terbuka lebar, di spring bed anak tak tahu malu ini masih tertidur nyenyak, dan tiba-tiba terbangun sambil merengek,

“Ibuuu’, mentiil…..!!!!”, sang ibu dengan sabar kembali menutup jendela kamar dan membuka baju terusan yang sangat susah memakainya itu, hanya supaya anak ini tak terganggu tidurnya dan bisa kembali pulas menikmati mimpi-mimpinya menjadi Megaloman. Andaikan pada saat itu aku yang menjadi sang ibu pasti sudah kucarikan kambing muda untuk kusodorkan didepan muka nya sambil menghardik,

“Mentil sana sama kambing…!!!”

Atau mengantarkan ku ke SD 1 Tamansiswa LNG Arun Lhokseumawe dengan motor Honda Astrea 800 merah. Keranjang didepan berisi setumpuk sayuran, cabai dan tak ketinggalan terasinya, tangan satu memutar perlahan gas motor, sementara tangan yang lain memegangi tangan mungilku yang memeluknya erat dibelakang jok motor memastikan anak bungsunya ini aman dalam lindungannya. Padahal aku tahu untuk menjaga keseimbangan motor saja ibu sudah sangat susah, apalagi jika harus sambil menjaga anaknya ini.

Sampai menikmati polah dan tingkah ku yang sedang menikmati masa puber yang kuanggap adalah masa paling egois. Dimana tak kuhiraukan semua kata-katanya, tak kuturuti lagi perintahnya demi hanya sekedar menyuruh mengambil gelas penahan panas yang berisi kopinya, tak mengantarnya lagi ke pajak pagi ( :pasar) tempatnya merasakan kenikmatan duniawi setelah dapur. Bahkan sekali waktu saat aku masuk angin karena terlalu sering keluar malam dan beliau ingin meng-kerik punggungku untuk mengeluarkan angin jahat, aku malah menghardiknya, tindakan yang dimurkai sang Nabi yang bahkan melarang kita sekedar mengucap kata “Hush!” pada seorang ibu. Menganggap tindakannya tadi hanya akan membuat seorang remaja yang terbiasa wangi minyak senyongnyong menjadi bau minyak angin.

Ingin sekali diriku yang sekarang jika bisa meminjam mesin waktu Doraemon atau melakukan lompatan ke masa lalu seperti dalam film Quantum Leap, kembali ke masa itu, dan men-jungkir jempalik-kan Adhi puber, membuktikan itulah balasan anak yang durhaka.

***

Sekarang dia hanya dapat terduduk, kehilangan energinya yang mampu menyeimbangkan motor Honda Astrea 800 – yang sudah dihibahkan ke seorang anak angkat – full muatan dengan satu tangan. Alih-alih menyeimbangkan sepeda motor, menyeimbangkan diri nya sendiri saat berjalan saja dia sangat kesusahan, dikarenakan osteoporosis yang menggerogoti tulang-tulang tua yang menyokong berat badannya.

“Ibu kau ni banyak keilangan kalsium mungkin karena ngelahirin tujuh besodara, dan dak abis ngasih ASI buat tujuh-tujuh nya”, Tak ada yang berani menyangkal teori kalsium seorang ibu yang melahirkan tujuh anaknya secara normal, dan dengan lancar memberikan ASI kepada ke tujuh-tujuhnya.

Duduk dia di kursi kebesarannya, sebuah kursi kayu sederhana berwarna coklat, di sudut dimana dia dapat dengan leluasa menyaksikan ketujuh anak nya yang sudah besar-besar saling melempar candaan, sambil menyaksikan ketujuh cucu nya memamerkan kebolehannya masing-masing. Mungkin ini lah obat paling mujarab untuknya, puncak kepuasan batinnya, yang kata para dukun adalah salah satu cara jitu yang mampu menangkal serangan ilmu hitam manapun setelah menanam tanaman kuping gajah di depan rumah.

Sambil memandangi anak dan cucu nya, dia sedikit sunggingkan senyum. Dimatanya, masih kuat memancarkan energi kesabaran. Energi cinta kasih yang tak tersentuh osteoporosis atau penyakit manapun juga. Energi yang menyiratkan keinginan melihat anaknya bisa tumbuh besar dan bersinar layaknya titik embun dipagi hari yang selalu setia melekatkan diri pada kelopak bunga, sekedar hanya ingin melihatnya bersinar pabila nanti dipandang orang. Energi pengorbanan untuk anak-anaknya, tak perduli cobaan apapun juga, bagai pengorbanan Siti Hajar yang berlari mondar-mandir sebanyak tujuh kali dari bukit Shafa dan Marwah sambil kebingungan hanya untuk mencarikan setetes air untuk Ismail putranya yang kehausan. Dan energi-energi positif lainnya yang menghangatkan kami ketujuh anaknya seakan-akan energi itu melebur menjadi bohlam kecil namun besar artinya untuk proses menetasnya telur-telur.

Dan kami sudah “menetas” bu, bahkan bisa berdiri dan mencari makan kami sendiri, tentu dengan lindungan energi positif mu yang mendarah daging sampai ke urat terhalus di tubuh kami.

***

Dengan daster kelelawar made in Bringharjo nya, dia masih keliling hilir mudik kamar tidur dan dapur dengan tergopoh-gopoh, dan menyisakan bau keibuan disekelebatannya menutupi bau balsem yang dioleskan di kening dan betisnya, hanya untuk menepati janji pada masa kecilku, memasakkan makanan pedas, serta mengulek cabai dan terasi untukku.

Sambil “berbisik” dengan nada 3 oktaf kebanggaan yang mungkin sekarang hampir di level 4 oktaf , dengan birama ¾,

“Naaaaang, sambelnya sudah jadi, makaaaaannn !!!! “

10 Responses to “cabai dan terasi….”

  1. andriew Says:

    “Naaaaang, sambelnya sudah jadi, makaaaaannn !!!! “
    ==> selalu ada ajakan khas dari ibu untuk mengajak makan anaknya.. ya ja?? hohoho..

  2. rajasaadhi Says:

    haha.. iyaa ndi.. untung ga dipanggil otong gw ma emak… hahaha…

  3. corina Says:

    gara-gara dah kenal cabe dari kecil, skr jadinya sensitif banget ya Ja. Bau sambel langsung laper :P

  4. Virman Says:

    hmmmm… ini cerita ttg apa yah?

  5. uyie Says:

    satu yang dari awal gw kenal loe pengen gw liat en ketemu……sama si pembuat sambel terasi….. yang dari baunya aja udah bikin perut laper kalo dulu loe sering bawa bekel dari rumah pas mau siaran…..sungkem ya Ja buat Ibu…..

  6. Dino Says:

    tulisannya enak dibaca. Penulis ya?

  7. podelz Says:

    hi radja… ja panjang banget tuch tulisan ampe puseenk bacanya, tapi tulisannya keren euy, bakat jg jadi penulis ^_^.
    BTW: welcome to the blog community

  8. meikahazim Says:

    U…terharu….
    Ibu ya… sebagaimanapun kita “durhaka” tetap saja ibu…
    Yang ngrawat kalo anaknya sakit…
    ato sekedar membuat asap mengepul di dapur lagi…
    demi kenikmatan lidah anaknya yang kangen racikan bumbu tangan ibu….

    http://meikahazim.wordpress.com

  9. emir Says:

    Ja, elo tau gw orang yang jarang banget terharu…tp gw salut ada orang yang mengingat sedetil itu kebaikan ibunya….gw yakin nyokap bakal mengutuk gw klo baca tulisan lo…hehehe.

  10. elang Says:

    ha…ha…jadi anak terakhir emang joss.disayang lagi,gara itu juga korban motor di yogya gl.pro yach?

Leave a Reply