Mata, mata nya lelaki. Bagai ujung periskop yang mampu leluasa melihat ke sekeliling penjuru, atau mungkin bisa berputar 360 derajat disaat yang diperlukan. Sebagai ujung tombak dari sonar yang ditebarkan, melalui frekuensi tertentu, bedanya ini bukan mendeteksi serangan musuh, tapi lebih kepada menjaring target yang diharapkan. Target yang diharapkan? Ya iyalah, apalagi yang diharapkan untuk dilihat selain makhluk gemulai berasal dari venus, kulit putih mulus, tampakkan urat-urat biru yang halus, rambut panjang lurus, wangi mengalahkan kapur barus, dan badan ramping jenjang terurus.
Korban kekerasan media memang kita, dimana presepsi image wanita cantik berarti seperti itu. Membuktikan betapa dahsyatnya media, dan tak heran kadang dimanfaatkan untuk konpirasi-konspirasi licik yang berujung pada pembentukan presepsi SALAH menjadi BENAR. Dan aku beserta kedua temanku, pasrah saja dibodohi untuk di cuci otaknya mengenai presepsi wanita cantik tadi, tapi ya sudahlah, memang ini indah kok. Kenapa akhirnya harus munafik untuk menyangkal itu. Toh batasan pandangan zina kan dikedipan pertama, nah kami mencoba untuk tidak mengedip di pandangan pertama, sampai si wanita berupa titik kecil berlenggak-lenggok. Pedas juga terasa mata ini, tak heran minus-nya semakin bertambah. Tapi percayalah, hampir semua Mall di Jakarta menyediakan pemandangan ini. Apalagi Mall yang katanya di posisikan untuk SES A+ ini, kami orang-orang tak tahu diri yang berada di golongan D-, mencoba percaya diri saja melenggang.
Disatu selasar wanita dengan rok 25 centi diatas lutut, kaos tanpa lengan, rambut kriting gantung, anting-anting yang lebih cocok kalau menjadi gelang karena besarnya bergoyang-goyang di kuping. Sekelebatan wanita 23 tahunan, putih, tak begitu tinggi sekitar 155-an cm tapi terlihat 165-an cm karena highheels nya, skinny jeans, baju kebesaran open shoulder, di pundaknya tali surga **tali menuju surga dunia maksudnya** muncul disengaja. Melewatiku hampir tertabrak **ah kenapa hanya “hampir”** kecil imut sekitar 19 tahunan, memakai legging hitam, baju hijau yang tampaknya seperti setengah potongan daster kelelawar ibuku, ditengah baju itu bertuliskan MANGO, profesi nya tukang rujak kurasa, karena dia senang buah yang enak buat rujak, sangking senangnya tulisan mangga dibuat manik-manik di tengah-tengah bajunya **bodohnya aku**, desiran shampoo mahal dari rambutnya, dan wangi tubuhnya campuran rempah-rempah lulur cap dua putri dan kayu manis, tinggal ditambah ketumbar, pala, dan cabai keriting kurasa bisa jadi bumbu rendang mba nya ini.
Di pojok lain pasangan bergelayutan, tapi tetap wanitanya yang kami jadikan objek observasi, cantik sekali.
Tapi kenapa?.
Pasangan lainnya lewat, sekali lagi wanitanya cantik mendayu-dayu.
Tapi kenapa?.
Bertebaran dimana-mana pasangan. Dan sekali lagi muncul pertanyaan:
Tapi kenapa?
Inilah saat yang paling mengasyikkan sekedar pengobat rasa sakit hati karena harga yang tak masuk akal di setiap etalase, dimana salah satu tokonya memajang tulisan besar
SALE DISC 50%
untuk sepasang kancut pria menjadi “hanya” seharga Rp. 750.000 setelah di discount.
Bergunjing. Yah itulah obat sakit hati kami terhadap kesenjangan isi dompet ini.
“Tuh cewek cantik banget ya, sayang uda bawa monyet”. Temanku El memulai obrolan berujung kata sandi para pria, yang berarti melihat cewek cantik tapi sudah bergandengan dengan pasangannya. “Tapi ko mau ya, standar gitu muka cowoknya”, dia menambahkan sambil berbisik
“Ahh, pasti mobilnya yang ga standar”, Wan tidak mau kalah menambah dosa hasil gunjingan ini.
Teman-temanku sudah mendapat dosa, atas dasar solidaritas kesetiakawanan aku pun ingin ikut berdosa,
“Mungkin minyak senyong-nyong ama ajian Jaran Goyang yang sudah berbicara”
Komentar-komentar pun segera merentet dari mulut kami selama ada di Pusat Perbelanjaan itu. Membandingankan pasangan satu dengan yang lain. Betapa beruntung si pria dan tidak beruntungnya si wanita, atau sebaliknya. Dan memang banyak sekali tontonan malam itu yang dapat kami jadi kan analisa quantitatif dadakan. Intinya kenapa sih si wanita mau dengan pria tipe seperti itu atau sebaliknya, dimana seharusnya mereka bisa mendapatkan jauh lebih baik dari yang mereka bayangkan. Kami bertiga contohnya. Sakit hati karena kancut itu berujung pada perbuatan yang lebih kejam dari pembunuhan: fitnah.
Karma-pun terjadi instan seperti photo box, tanpa menunggu lama. Karcis parkir mobil yang disimpan baik-baik raib entah kemana! Dan untuk Pusat Perbelanjaan seperti ini yang keamanan parkirnya maha ketat, kehilangan karcis parkir berarti pelanggaran besar. Pemeriksaan-pemeriksaan berlangsung lebih dari 1,5 jam oleh pihak security yang seharusnya bisa hanya 5 menit, hanya karena Kepala Keamanannya sedang izin, sehingga kami harus menunggu sampai beliau kembali. Pencocokan nomer STNK dan nomer plat mobil, ditanyai segala macam, hingga berlangsung ke pembayaran uang denda yang jumlahnya bisa cukup menyumpal mulut kamu bertiga dengan waffle sundaes kesukaanku dibanding bergosip. Tuhan Maha Membalas, dan dia berbaik hati untuk membalasnya di dunia ini.
***
Tapi fenomena ini memang sering terjadi **menggunakan kata “fenomena”, membuatku merasa seperti Feny Rose di “setajam Silet!” **. Tapi benar teman. Lihatlah disekeliling kalian, banyak wanita cantik yang bergandengan dengan pria yang biasa saja. Atau pria yang gantengnya ‘aujubilee memberikan tatapan melindungi pada wanitanya yang standar. Jangan bilang kalau kalian juga tidak tergoda untuk berbisik-bisik di belakangnya, sekedar membicarakan Beauty and the beast ini.
Tapi apa sih yang sebenarnya dipermasalahkan. Presepsi cantik harus mendapat ganteng, atau ganteng harus mendapat cantik justru membuat kita menjadi seekor Pungguk, tak berani terbang untuk meraih sang bulan. Dan ternyata fakta ini **kali ini beralih ke style Kania Sutisnawinata di Indonesia Now karena penggunaan kata “fakta” ** membuat banyak pria atau wanita tak berani mendapatkan sesuatu yang dinggapnya berada jauh di selemparan lembing, padahal bisa dijangkaunya karena hanya selemparan kancut **please, berhenti bicara tentang kancut, masih perih hati ini, entah karena tak mampu membeli atau mendapat karma karenanya**.
Aku pun pernah merasakan dulu waktu berumur 11 tahun. Menyukai seorang gadis cantik, primadona satu kompleks karena parasnya yang ayu dan rambutnya yang jika disibakkan bagai menebar kembang tujuh rupa. Tak berani ku mengungkap cinta ini, karena merasa apalah aku, seorang anak kecil kurus, rambut poni beatles, dekil bau matahari. Beruntungnya aku, si gadis mengungkapkan cintanya lebih dulu kepadaku, kalau tidak, kurasa dia hanya akan menjadi putri dan aku rakyat jelata yang tetap terperangkap di tubuh sang kodok. Dan rasa menyesal pun timbul, bukan karena aku akhirnya berhasil mendapatkan si gadis, atau karena waktu kami berpacaran hanya sebentar, disebabkan aku dan keluarga harus pindah ke Kota Gudeg. Tapi karena mengapa tak dari dulu kucoba mendekati dan mengajaknya ber-cinta monyet, mungkin aku bisa lebih lama bersama dengannya main dokter-dokteran **buang pikiran kotormu wahai pembaca yang budiman**
(Cerita dengannya mungkin lain waktu akan kuungkapkan disini, dengan seijin kekasih hatiku pastinya )
***
Semua pembukus dan asesori duniawi itu sebenarnya relatif, bagai kerlingan lampu disko, yang jika dihidupkan cahaya ruangan disekitarnya, takkan lagi terlihat indah kerlap-kerlipnya. Percaya dirilah teman untuk mengejar siapa yang kau mau. Jangan batasi diri dengan hal-hal relatif. Yang lain orang, lain pula pendapatnya.
Ari Lasso pernah mengajarkan ilmu rahasia, dan ini serius, tolong hormati dalam membacanya, serta, tolong jangan disebarkan ke yang lain, karena ini hanya untukmu. Ilmu yang hanya boleh dipraktekkan pria cukup umur. Mulai amalkan ilmu ini dengan terlebih dahulu menyebut namaku tiga kali, lalu koprol ke belakang 2 kali, tiger sprong, diakhiri dengan kayang. Kalau kau mempraktekkan ini semua niscaya kau adalah orang yang sangat aku hargai karena benar-benar serius membaca tulisanku.
“Sentuhlah dia dekat dihatinya, dia kan jadi milikmu selamanya”
Ya hanya itu yang diperlukan. Karena wanita “memandang” sesuatu mendahulukan hatinya. Dan apabila itu berhasil dilakukan, percayalah, maka hatinya yang akan bicara. Jika hatinya yang sudah berbicara maka perasaannya yang akan memutuskan segalanya. Dan saat perasaan yang sudah memutuskan segalanya, maka hal-hal yang berkaitan dengan buruk rupa, materi seadanya, bau badan bagai ban dalam sepeda, dan dandanan abang-abang jual es kelapa, akan melebur menjadi satu penampakan pria dalam serial komik cantik, plus kerlang-kerling cahaya sebagai latarnya. Begitulah jika perasaan yang sudah memutuskan: ikan asin terasa seperti coklat.
***
Mungkin inilah yang menjadi jawaban dari gunjingan-gunjingan kami, mengapa si beauty mau dengan si beast. Yang pasti diperjalanan pulang kami sudah mendapatkan topik yang lebih menarik dari pada itu semua. Yaitu bagaimana cara, jika kami membeli kancut mahal itu, orang tahu kalau kami sedang memakainya, pamer.
Datar El memberikan ide, “Pakai diluar setelah celana panjang”
Wan menyambar, “ Pakai di kepala sebagai hiasan rambut setelah disasak”
“Jahit ditengah kaos, menutupi tulisan MANGO, biar orang tahu profesi pemakainya bukan lagi tukang rujak, tapi tukang kancut”, aku pun menjawab sekenanya.
Sambil mataku mengerling keluar jendela mobil, memperhatikan dua manula saling tuntun memasuki sebuah Taxi. Mereka berdua tahu kalau mereka tak menarik lagi satu sama lain, namun tetap saling menjaga dan membuat segalanya indah menarik, dan kurasa hati merekalah yang berbicara dengan bahasa cinta seumur hidup. Mendadak pemandangan itu berubah menjadi Pangeran yang tampan, gagah bagai panglima perang, sedang menuntun sang Putri dengan gaun mengembang di bagian bawah yang sangat indah, tak ketinggalan sarung tangan putih yang membalut jari-jemari sampai sikunya, sambil menyambut tangan sang Pangeran, sang Putri menunduk tanda terima kasih. Perlahan menaiki Kereta Kencana megah berhiasan batu mulia berwarna-warni dan ditarik selusin kuda putih untuk selanjutnya kembali ke istana mereka.
Ah, ternyata hatiku yang sudah tersentuh.
28 January, 2008 at 7:50 am |
hehee.. ikutan yak.. kancut harga jahanam itu di pake di leher aja ja.. jadi scarf.. kan lagi musim tu.. Giring aja pak.. belinya yang ukuran XXL yak tapi biar ga kejiret.. kakkakaak..
28 January, 2008 at 9:06 am |
duuuuh, indahnya cinta nenek-kakek itu ya ja’…
aku mau ja’…mendapatkan pangeran sejatiku… :’)
doain lia ya ja’….
28 January, 2008 at 10:09 am |
Abang Raja… itu mestinya “sentuhlah dia TEPAT di hatinya”, bukan “sentuhlah dia DEKAT di hatinya”. Kalo disentuh di “dekat hati”, si dia itu malah takkan jadi milikmu selamanya. Malah bisa kena bogem mentah. Gaswat !
28 January, 2008 at 10:14 am |
Hmm.. wanita 23 tahunan, putih, tak begitu tinggi sekitar 155-an ??
Kayak kenal..
28 January, 2008 at 10:15 am |
Santi: hahaha.. kreatif.. boleh juga tuh.. tapi cari yang motif sorban dong ya..
Lia: Yakin lia mau, ya udah nanti aku cariin pangeran kakek-kakek..
Anak ABG Berponi: aaaaarrrggghhh… salahkan lyrics.com.. lagian kan setelah menyentuh lalu memilin.. masak masih mau dibogem juga sie…
)
28 January, 2008 at 12:31 pm |
Du du du…masnya menyentuh sekali ya ceritanya…
Apalagi endingnya… bak raja dan ratu sejagat **Titik puspa punya..**
Duh mas pujangga cinta….
kenapa ya kalo dah kena di hati jadi merem ama yang lainnya…
Kakakaka….
http://meikahazim.wordpress.com
29 January, 2008 at 1:19 am |
Ika… kalo yang kena bagian hati pasti merem.. cobain deh…
)
29 January, 2008 at 2:11 am |
gimana ga kena bogem ja.. “milin” trus ketiduran
)
eittss.. buat yg mulai berprasangka buruk.. ntar duluu.. baca “cabai dan terasi” doong
hehehehe…
13 February, 2008 at 2:53 pm |
heee..apa salahnya si Beauty and The Beast?…She’s not that pretty and he’s not that ugly u know…Ik menjunjung tinggi Hukum Relativitas..:)
14 February, 2008 at 2:51 am |
Heee,,, ibu atun, ga ada juga yang nyalahin beauty and the beast.. Justru itu dijadikan contoh betapa “perasaan” bisa merubah sesuatu yang “ugly” jadi “pretty”, pengibaratan disini ya itu: ikan asin jadi rasa coklat, kalo ngerasainnya pake “perasaan”….
14 February, 2008 at 4:10 am |
Sebenernya ikan asin juga enak kok tanpa dia harus berasa coklat. Apalagi makannya pake sambel, tempe goreng dan nasi anget (hmmm..) .. makan begituan bisa bikin nambah lho..
14 February, 2008 at 4:22 am |
dalem banget sie hihihihi..
tp kayanya hari ini lebih enak coklat valentine dari pada ikan asin ya mi? ahahahaha…
)
14 February, 2008 at 4:27 am |
hihihihi…..
ga enak beb dapet coklat valentine…. soalnya lebih enak diliat daripada dimakan hahaha….
Btw, sejalan dengan blognya Raja ini, loe masih inget ga beb doa kita waktu ngomongin idung ?
“Ya Allah… jadikanlah kekuranganku ini kelebihan bagi orang lain… Amin..”
14 February, 2008 at 4:34 am |
huhuhuhu..
)
untung kita ini jd orang2 yg bersyukur (pasrah banget maksudnya).
Dan mungkin karena pasrahnya itu, omongan kita jd ajian pelet yg ampuh
Padahal doa kita itu ga nyambung bener ya mi ahahaha..
-Sayang.. maap jd bales-balesan di blogmu
14 February, 2008 at 2:24 pm |
Amie, Ayie…plisss….ik kan jadi tergoda pengen numpang nampang di sini…
16 February, 2008 at 3:01 pm |
damn…..
salah satu bakat dari ‘banyak’ nya bakat dari bapak raja…..
nanya nich….ilhamnya dateng kalo lagi bengong apa gmana mood…..???
g yakin bukan “subuh” yahhhh ;p…..
ps. salam buat calon istri………
18 February, 2008 at 1:17 am |
Ja…..harga kancut lo cuma 1% dari harga kancut yang bikin lu sakit hati yah? hehehe……tapi gak apa2 ja….kan yang dilihat bukan cuma harga kancutnya aja…yang lebih penting isiiiiinya (maksudnya HATI-nya ja…..hehehe
)
18 February, 2008 at 2:59 am |
Ibu Pane, Amie, Atun!!! Eike ikutan rumpi ya neeeekkk
Hera: yang bener menjelang subuh non…
Mang Heru: Jika harga kancut gw harganya 1% dari harga kancut jahanam itu, sedangkan harga kancut Mang Heru harganya 1% dari harga kancut gw.. Pertanyaannya adalah: 1. Berapakah harga kancut mang Heru?? 2. Siapakah yang harga kancutnya paling murah??
14 August, 2008 at 2:41 pm |
ikan asin rasa baru :p
tapi gw malah paling suka part yg ini:
“dan wangi tubuhnya campuran rempah-rempah lulur cap dua putri dan kayu manis, tinggal ditambah ketumbar, pala, dan cabai keriting kurasa bisa jadi bumbu rendang mba nya ini.”
ini membuktikan bahwa sebagai laki-laki dirimu masih punya cukup banyak “kosa kata feminin” pak heheheh