25 Hal Yang aku Cintai tentang Jogja….

14 February, 2008

(Diambil dari Blog Dimas Novriandi) Cerita tentang betapa dahsyat nya pesona Jogja, dan betapa aku mencintainya.

Begitu banyak yang bisa dicintai dari suatu tempat, entah itu kamar, dapur, ruang baca, sampai lingkungan yang lebih besar, yaitu kota. Ya kota. Dan beruntungnya aku bisa mencintai Jogja, kota yang aku tinggali 10 tahun terakhir ini. Nah, kalo pengen tahu kenapa aku jatuh cinta dengan kota Jogja, walau mungkin berbeda dengan pendapat kamu, baca alasan-alasannya berikut ini:

  1. Pengendara sepeda motor lebih berkuasa daripada pengendara mobil, I’m the king of the road! Hehe…
  2. Penjual makanan enak yang berlimpah ruah, tentu dengan harga yang sesuai dengan kantong mahasiswa. Bahkan kadang bisa ngutang, ini yang paling penting.
  3. Teknologi fotocopy dan warnet menjamur lebih parah daripada wartel. Fotocopy bagus buat kesehatan kantong, soalnya gak perlu beli buku. Sedangkan warnet bagus buat kesehatan mata. Maksudnya? Baca berita aktual tanpa beli koran lah! Dasar ngeres…
  4. Cocok untuk sun bathing alias berjemur, karena mataharinya yang sangat menyengat di siang hari. Makanya kulitku berwarna coklat yang sangat bagus sekali (damn!)
  5. Banyak pekerjaan paruh waktu yang bisa dilakuin, mulai dibelakang layar sampai di depan layar.
  6. Kota yang berasa seperti kecamatan, everybody knows everybody, terasa aneh tapi terkadang menjadi menyenangkan, hehe…
  7. Gak perlu dandan heboh dan bersepatu kalo jalan-jalan ke mal. Cukup dengan kaos dan sandal jepit saja. Coba kalo hang out di Jakarta, doh repot!
  8. Kemana-mana deket. Tinggal berguling kayaknya dah nyampe deh ke tempat tujuan. Misal: Masuk kuliah jam 7? Berangkat aja jam 7 kurang 5, hehe…
  9. Status pelajar dan mahasiswa banyak untungnya. Ikut ini, diskon. Beli itu, diskon. Naik bis, diskon. Nonton pelem, gak diskon! Enak aja semuanya diskon.
  10. Banyak radio anak muda yang bagus. Bahkan ada yang on air 24 jam yang bisa buat nemenin belajar. Di kota lain? Dengerin aja RRI…
  11. Seminar dan eksibisi gratis dimana-mana. Kalo pengen dapet notebook, pulpen dan kalo beruntung, snack gratis, rajin-rajinlah membaca jadwal kegiatan yang ada. Lumayan kan buat nambah-nambah koleksi.
  12. Hanya di Jogja, satu propinsi ada gunung, ada pantai, ada kraton, ada candi, ada taman pintar (eh ada yang udah kesana?), ada malioboro, dan yang paling penting, ada aku. Awas kalo komentar!
  13. DVD dan VCD pelem, mp 3, dan program komputer (tentunya bajakan) gak perlu beli, ngapain repot-repot. Tinggal pinjem, ninggal KTM, beres deh.
  14. Kalo lapar di tengah malam, cukup berkunjung ke warung angkring a.k.a nasi kucing atau burjo yang bertebaran di mana-mana. Tidak perlu malu, karena semua ras dan strata sosial tumplek blek makan disitu.
  15. Indonesia mini, kita bisa belajar budaya dan aneka bahasa dengan teman-teman yang sedang belajar di Jogja. Kapan lagi kita bisa tahu aneka bahasa jorok dari berbagai daerah? Hihi…
  16. Toko buku murah bertebaran, mulai dari jual buku bajakan, sampe buku asli yang didiskon besar-besaran. Untuk pecinta buku, welcome to heaven. Suatu hari, toko buku Gramedia akan menjadi sejarah di kota ini.
  17. Gak punya duit buat makan Friend Chicken waralaba seperti KFC dan teman-temannya? Jangan khawatir, karena tersedia Kentuku FC, Jogja FC, Jakarta-Jakarta FC, dan masih banyak lagi di kota ini. Rasanya? Hanya Tuhan yang tahu. Yang penting kenyang.
  18. Pengen makanan cepat santap dengan uang minimalis? Beli kebab dan burger di kios-kios kecil di pinggir jalan. Berhenti sebentar, pesan, pergi deh.
  19. Pengen tampil modis dan bergaya ala artis ibukota? Gak perlu jauh-jauh ke departement store, butik-butik dan distro itu sudah menghantui orang Jogja di setiap sudut. Berapa lapis? Ratusan!
  20. Buat kamu yang males nyuci baju sendiri, dateng aja ke laundry service yang harganya cukup murah, juga bersih. Dan tentu saja ketika orang rumah bertanya, “nyuci dimana nih, kok bersih banget?” dan jawabannya sudah pasti, “sendiri dong!”
  21. Tempat jualan voucher pulsa bertebaran dimana-mana, jadi gak repot kalo mau isi ulang. Dan jelas, program provider operator yang paling laku di Jogja adalah XL xtra gratis 100 kali sms per hari dan telpon malam ala Simpati. Bukan apa-apa, karena gak semua mahasiwa mampu beli paket Fren (duh curhat ni ye…).
  22. Hanya di Jogja terjadi, minum teh hangat, pasti gak pernah dikasih sedotan, kenapa gitu? Mentang-mentang lebih murah… Diskriminasi peminum teh hangat!
  23. Pengen foto-foto keren tapi gak mau keluar uang banyak? Nah dateng aja ke box foto yang ada di mal atau studio foto digital yang cukup murah di berbagai tempat di Jogja. Cepat pula jadinya.
  24. Cukup mudah kalo mau cari tempat buat nongkrong. Bisa cuma sekedar nongkrong di pinggir jalan beramai-ramai dengan teman, sampai kongkow di beberapa kedai kopi yang mulai bermunculan. Nah kalo males bengong dan pengen ngadem, bawa aja satu buku, terus masuk salah satu kedai kopi, pesen satu minuman, nongkrong deh disana mpe mabok, gak bakal ada yang ngusir! Hihi…
  25. Terakhir, tentu saja karena hanya disini orang-orang tak dikenal tak pernah sungkan untuk menyapa dengan ramah dan sekedar bertanya, “apa kabarmu?.”

Sungguh, aku cinta kota ini. Yogyakarta.


kardus Puzzle

13 February, 2008

..Like A Comet
Blazing ‘Cross The Evening Sky
Gone Too Soon

Mengalun lembut nada demi nada, berbaris rapi masing-masing di bagiannya, mengayun indah layaknya balerina, perlahan menyusuri sendi dan masuk bagian terdalam panca indra bagaikan angsa putih yang dengan anggun bermain di liuk nya telaga sampai ke ujung muara. Kata demi katanya siratkan satu yang terlewat. Mengungkap kembali perjalanan mimpi, kilaskan kembali harmoni keinginan terpendam yang telah lama ingin meyeruak.

…Like A Rainbow
Fading In The Twinkling Of An Eye
Gone Too Soon

Aku berjuang demi ini. Terlalu banyak kisah yang harus aku lewatkan dengan perasaan sesak tak berarti. Asesoris dunia, selalu saja binar nya sementara. Tapi aku ingin menikmati binar itu. Toh tak dilarang, apalagi berdosa. Tapi sekali lagi, pasrah ikuti jalan yang telah dipolakan, apalah aku, tak lebih besar dari debu yang bersujud di terompah-Nya, dan aku merasa lebih baik untuk meminta dan bersyukur tak disilaukan binar-binar itu, daripada mengeluh. Dan aku yakin pengungkapan rahasia pola-pola itu jauh lebih agung dibandingkan keluhan-keluhanku.

…Shiny And Sparkly
And Splendidly Bright
Here One Day
Gone One Night

Sebutkan keinginan-keinginan mu teman. Boleh aku sedikit menebak? Masuk di SD-SMP-SMA yang ternama, kalau bisa negeri, yang hanya bisa dimasuki oleh orang-orang berotak cerdas dengan NEM selangit, agar otomatis bisa mengantongi paspor memasuki perguruan tinggi negeri yang kondangnya cap jempol. Selesaikan sarjana strata satu dengan predikat magna cum laude untuk selanjutnya bisa menyelesaikan strata dua di luar negri. Yang setelah kembali ke tumpah darah mengabdikan ilmu untuk perusahaan bule dengan gaji bulanan tak terkira.

Atau keinginan yang lain, memiliki kekasih hati yang cantik atau ganteng, setia, pengertian, tidak pernah marah, tidak cemburuan, tidak pelit, melindungimu, membuatmu nyaman bila berada didekatnya, tahu apa yang kau inginkan, dan segudang sifat impian yang lain. Mungkin juga kriteria yang lain, (buat wanita) pria mapan, bermasa depan cerah, dan yang paling penting memberikan kepastian yang cepat tanpa harus menggantungmu menjadi perawan tua. (Buat pria) keibuan, mertua orang ternama, dan memegang teguh prinsip poligami adalah ibadah **ah, liciknya pikiran para pria ini**. Lalu melangsungkan pernikahan bak cinderlela dengan pangerannya lengkap dengan segala sesuatu yang bernuansa putih.

Boleh jadi impian mu berikutnya adalah masa remaja yang penuh dengan kebebasan tanpa harus kebanyakan aturan. Bisa melanggar jam malam sesuka hati, tertawa bersama teman berkeliling kota, tak perlu belajar tapi bisa mendapat nilai bagus, dan jadikan setiap hari adalah pelangi. Mendapatkan jatah mobil, dipegangi kredit card no limit, mendiami rumah luas dua tingkat dengan kolam renang dan lapangan tenisnya, mengulik beragam perangkat elektronik mulai dari handphone high end, laptop Mac-air, pemutar MP3 layar sentuh, LCD TV 42’ beserta home theatre nya.

…Like The Loss Of Sunlight
On A Cloudy Afternoon
Gone Too Soon

Mungkin dirimu memiliki berjuta keinginan lain versimu sendiri. Sekarang, sebutkan dalam hatimu, mana yang memihak pada kenyataan, mana yang berlari mengikuti ilusi impian. Mungkin ada yang menarik nafas lega karena hampir keinginannya disapu bersih oleh sang kenyataan. Ada pula yang mengangguk-angguk tanda sebagian keinginannya telah terwujud. Yang terakhir mungkin kedipan mata cukuplah untuk isyaratkan keinginannya telah lenyap tak berbekas.

Hidup layaknya puzzle, berserakan di satu area, menunggu bagian demi bagiannya untuk diatur kembali menjadi sebuah wujud yang sempurna. Semua sudah ada pada tempatnya, takkan bisa dipaksakan bila lekuknya tak sesuai, hanya akan tinggalkan cacat yang menggangu. Belum tentu bagian yang ingin kau pasang sesuai dengan pasangannya. Perlu kesabaran dan ketelitian untuknya. Apalagi kalau bagian puzzle itu bukan satu paket dengan yang ingin disusun, tiba-tiba gambar seekor gajah berbadan pemandangan seonggok gunung-lah yang terjadi.

…Like A Castle
Built Upon A Sandy Beach
Gone Too Soon

Mungkin jika SD-SMP-SMA di sekolah negeri yang ternama, tidak akan menemukan seorang sahabat yang tak henti ada saat menangis atau tertawa. Mungkin jika S1 di perguruan tinggi negeri ternama, tidak akan tahu lebih dahulu mengetahui teknologi terkini input SKS, mungkin kalau sekolah S2 di luar negeri, tidak akan menemukan kejadian yang menjadi titik mula keberhasilan masa depan.

Atau bisa juga sebaliknya.

…Like A Perfect Flower
That Is Just Beyond Your Reach
Gone Too Soon

Mungkin jika kekasih cantik atau ganteng banget, semakin lelah diri ini menjaganya dari lirikan para mata nakal. Mungkin jika kekasih tidak cemburuan, maka sekarang sudah menjadi hidung belang berpredikat penjahat kelamin. Mungkin kalau dia terlalu setia kita tidak tahu pelajaran “..cintailah 70% saja” **ngeles**. Mungkin kalau dia keibuan, kau menjadi kekanak-kanakan karena dia keibu-ibuan **halah!!**. Mungkin kalau dia memegang teguh prinsip poligami, tidur ini tidak akan pernah nyenyak, karena setiap sebelum tidur harus berdebat terlebih dahulu untuk menentukan akan tidur dengan istri yang mana malam ini.

Atau bisa juga sebaliknya.

…Born To Amuse, To Inspire, To Delight
Here One Day
Gone One Night

Kalau saja masa muda mu penuh dengan kebebasan tanpa jam malam, mungkin sekarang sudah terserang insomnia akut, sehingga matamu layaknya Chris Jhon sehabis bertanding. Mungkin kau akan menjadi seorang yang sombong dan angkuh serta tidak menghargai sebuah perjuangan jika masa muda mu penuh dengan fasilitas. Mungkin dengan mobil itu…… **speechless dibagian ini, dammit, dendam kesumat**

Atau bisa juga sebaliknya.

…Like A Sunset
Dying With The Rising Of The Moon
Gone Too Soon

Sangat-sangat baik bermimpi dan punya keinginan, tapi mempersiapkan diri untuk kehilangannya jauh lebih baik. Karena meskipun itu sudah didepan matamu, dia bisa saja lenyap dalam semalam atau bahkan lebih cepat lagi seketika bagai cahaya blitz sekedipan mata. Terlalu cepat atau terlalu lambat itu hanya soal waktu. Biarlah bagian puzzle itu melekat pada bagiannya, sehingga bisa membentuk satu gambar sesuai petunjuk di kardusnya.

Dan pernyataan “Mungkin kalau……………………., aku takkan bisa seperti sekarang”, akan terus membahana di akustik ruang pikiran, hati, dan jiwamu.

…Gone Too Soon…

Puzzle ku pun kini belum terbentuk dengan sempurna, masih banyak bagian yang berserakan, terlihat sedikit ada cacat di pinggiran salah satu bagiannya. Ahh, Ingin mengganti Puzzle ini dengan Lego rasanya.

**ambil remote, repeat song Michael Jackson – Gone too Soon**