-isi jadi lebih “isi”-

2 January, 2008

Kubuka perlahan pintu kamarku, berderit karena lama tidak diminyaki, suara deritannya parau, harmonis dengan paraunya jeritan hati ini mengetahui kenyataan yang sebentar lagi akan terhadapkan didepanku saat tahu isi dibalik pintu ini. Tak ada “isi”. Yah itu isi dari kamarku, sekarang tak ada “isi”.

 

Setelah hampir tiga hari ini ber”isi” perasaan indah, tawa-tawa yang tulus, obrolan seru tentang masa depan, ekspresi penerimaan kado yang aku berikan 2 minggu sebelum dia berulang tahun karena takut tidak punya kesempatan untuk memberikan pas pada waktunya, dua tubuh raksasa yang menghisap dinginnya suhu kamar, kejahilan yang lebih cenderung ke penyiksaan, dan banyak lagi hal lain yang membuat kamar ini lebih berisi, sekarang tak ada “isi”.

 

Hanya desiran angin malas dari kipas Maspionku, hanya tempat tidur single bed jatah kost yang tertata rapi, hanya perangkat tv dan tetek bengeknya, hanya karpet, hanya gantungan baju dan celana yang sudah menumpuk, hanya tawa anak kost yang mulai berdatangan dari libur panjang tahun baru mereka, hanya itu. Tapi tetap tak ada “isi”

 

Atau mungkin sebenarnya kamar ini ada isi seperti layaknya kamar-kamar yang lain, tapi hanya hati ku yang kehilangan “isi” dan bagiannya yang lain.

 

Ahh, aku hanya bisa berharap, cepat dipertemukan lagi dengan bagian hatiku itu, agar tak hanya kamar, tapi Dunia ini, menjadi ber “isi” lagi.

 

 

** untuk pemenang hatiku, yang selama tiga hari ini rajin mengunjungiku, yang sudah kembali lagi ke kotanya bekerja, ahh long distance….**


-mencintai hati-

2 January, 2008

Ini pertama kalinya aku menulis dengan “serius”. Bukannya dulu tidak pernah serius, tapi serius ini “serius” yang berbeda. Kalau dulu mungkin keharusan menulis serius wajib fardlu ‘ain, satu persatu, runut, dan tepat sesuai dengan yang diharapkan, kalau tidak ya bisa terbayang tersentuh panasnya ponten yang memerah di raport. Hanya sebatas itu. Menulis serius menjawab soal Essai.

Karena kalo pilihan ganda ya pastinya bukan tulisan, hanya tanda silang di salah satu jawaban, atau sebagian peraturan mangharuskan nya berbentuk tanda bulatan, dan itupun boleh jadi sewaktu-waktu tidak diperlukan keseriusan, entah karena pelajaran yang dihapal semalam menguap bersama angin malam yang mendayu-dayu, bagaikan nina bobo dan usapan di punggung (cara paling mujarab yang bisa jadi obat bius berkadar tinggi untukku), atau merembes di pori-pori otak yang terlalu besar sehingga tak menyisakan sedikitpun ampasnya.

Bisa jadi juga karena,

“ Yak, waktu tinggal 2 menit lagi, selesai tidak selesai dikumpulkan..”

Peringatan terakhir layaknya raungan sirine saat pearl harbour kedatangan pasukan Nippon, yang berarti semua jawaban harus sudah terisi, entah itu benar atau menyalahi semua fakta yang sudah susah payah dikarang oleh sang penulis dan dijilid dalam buku pelajaran. Sehingga membuat kancing baju dan nyanyian sumbang, “..tokek..tokek … (jangan brani-brani mengganti salah satu hurufnya dengan huruf “t”, nanti jadinya “totek” halah..)“, menjadi sedikit lebih berguna. Ingat hanya sedikit, sisanya, “ Serahkan saja pada yang di Atas, Dialah yang Maha Tahu”, doa seorang yang sudah mencapai titik kepasrahan namun digaris bawahi tanpa usaha.

Yah mungkin begitulah dunia pendidikan kita, dimana soal pilihan ganda lebih banyak daripada soal essai, sehingga membuat para anak didiknya malas berkreasi dengan tulisan. Mungkin karena para pemeriksa malas memeriksa dengan membaca jawaban, namun lebih enak jika memeriksa jawaban pilihan ganda dengan membuat kertas yang sudah dibolongi sesuai dengan kunci jawaban, dan dipaskan ke lembar jawaban, kalau pas berarti benar, kalau tidak ya, coreett!!. Tapi apa tidak pernah terpikir oleh para pemeriksa betapa tersiksanya para pembuat soal, mereka harus membuat soal yang panjang plus dengan pilihannya untuk soal pilihan ganda. Berbeda dengan negara lain, tak usah jauh-jauh, temanku yang bersekolah di salah satu public school di Australia bercerita membutuhkan 30 halaman hanya untuk menjawab 6 soal ujiannya. **du du du**

***

Kalau soal membaca, nah ini salah satu hobi utama ku. Bukan ingin dianggap intelek saat interview kerja dengan menyebutkan membaca menjadi salah satu hobi **jawaban standar jika ditanya hobi saat interview kerja “Musik, travelling, dan MEMBACA”, tinggal dirubah saja urutannya**. Tapi memang itu hobiku, mau apalagi.

Buku-buku memang sudah menumpuk di deretan penahan yang diletakkan di atas lemari pakaianku, tempat yang multifungsi kalau kubilang. Selain berguna sebagai tempat meyimpan baju –karena memang sudah kodratnya begitu-, ruang atas yang masih kosong dapat dijadikan tempat menaruh beragam benda yang sudah tak ada tempat untuk mereka, yaah dengan ukuran kamar 4,5 x 2,5 m apalah yang bisa kuharapkan.

Berantakan mereka di setiap koloni-koloni nya, bagai kelompok yang memisah sesuai dengan fungsinya masing-masing. Hal-hal yang berbau perut (bau banget brarti ya) seperti margarine, roti tawar, susu, saos, dan kecap, disusun disudut kanan atas bersebrangan dengan satu plastik refill tissue. Disebelahnya ada setrika beserta cairan pelicinnya. Diagonal dari setrika berjejer produk-produk ketampanan (ya iyalah ketampanan, kalo kecantikan emang eike apaan neekk!!) yang tidak perlu disebutkan secara mendetail, takut kalau resep ketampananku dicuri banyak orang **DARR!!! tiba-tiba petir menghantam, “Azab orang standar mengaku tampan” judul yang muncul perlahan **.

Nah, dibelakang tengah itu berderet buku-buku yang 100% sudah habis kubaca, – yang kebanyakan buku-buku novel fiksi dan non fiksi-, kecuali buku Riwayat Nabi Muhammad karangan H.M. Al Hamid Al Husaini setebal lebih dari 1000 halaman. Belum selesai dibaca karena aku membutuhkan waktu khusus dan moment yang pas untuk menghayati riwayat Beliau mulai dari sebelum lahir hingga menghadap Kekasihnya **semoga bukan pembelaan diri yang berlebihan**

***

Buku-buku boleh berderet dan habis kulahap lembar demi lembar, begitupun majalah-majalah yang halaman demi halamannya sudah terangkum di otakku **dapat diambil kesimpulan, hanya majalah yang berhasil terangkum di otakku J **. Tapi kenapa hanya membaca!!!! Aku juga ingin bisa menulis seperti ratusan pengarang yang berhasil menelurkan karyanya. Yang tak hanya berhasil mempersembahkan karya-karya mereka, namun lebih jauh bisa menginspirasi jutaan pembacanya, mempengaruhi alam bawah sadar mereka, merangsang keinginan terpendam, dan aku rasa puncak dari keberhasilan mereka adalah membawa masuk si pembaca kedalam karya-karyanya, mengunakan salah satu anugrah terhebat yang diberikan Tuhan: Imajinasi!

Tapi tak apalah, tak ada kata terlambat, bukankan output juga membutuhkan input. Layaknya seorang pembicara yang baik pasti lah harus menjadi pendengar yang baik, kira-kira seperti itu pendapat Larry King – yang ini aku agak pesimis masih dipegang oleh wakil-wakil rakyat kita, bicara saja kadang masih seperti orang yang meracau, apalagi untuk menjadi seorang pendengar yang baik, tapi sudahlah, politik bukan bidangku, biarlah itu menjadi obrolan sekedar pembunuh waktu dengan sopir taxi, apalagi kalau dia bersuku batak, yang menurut pengamatanku jauh lebih senang diajak ngobrol jika topiknya tentang politik – . Kembali ke soal teori input dan output tadi yang aku rasa juga bisa di aplikasikan ke dunia tulis menulis. Karena menulis juga membutuhkan membaca, apapun itu. Termasuk membaca yang paling sederhana, membosankan, namun berisi jutaan kosa kata yang jadi modal untuk menulis, yaitu membaca kamus.

Dan aku rasa, yang aku lakukan selama ini adalah menumpuk input itu hingga pada saatnya nanti bisa menjadi sebuah output, sambil berdoa semoga inputnya tidak keburu basi dimakan waktu karena terlalu lama ditumpuk.

***

Sebenarnya ada beberapa hal yang akhirnya menggerakkan hati dan tanganku untuk menulis:

  1. Sahabatku Dimas Novriandi (semoga aku pun menjadi sahabat untuknya) dengan blog-blognya yang inspiratif, sehingga membuat ku sejenak melepaskan penat kerjaanku, dengan mencuri waktu membaca tulisan-tulisan di blog nya **disamping window friendster dan YM pastinya**. Teman dari dunia kompetisi di Jogja, seorang pecinta sekolah sampai menyelesaikan skripsi dan tesis secara bersamaan, seorang yang darinya aku belajar kata “Friendship Management”, dan yang sekarang menginspirasiku untuk menulis. (silahkan berkunjung ke blog nya di http://dimasnovriandi.com) Terus kutunggu tulisan-tulisan baru mu dim.
  2. Andrea Hirata dengan novel-novelnya, terutama Laskar Pelangi yang tersusun bersama buku-buku berderet tadi (baca paragraf “buku-buku berderet….), bersama pengarang-pengarang kondang dunia, namun justru yang paling mengena di hatiku. Yang menyadarkan aku betapa beruntung nya masa kecil sampai dewasaku, dan betapa bodohnya aku melewatkan berjuta kesempatan yang dihadapkan namun sedikitpun tak kuacuhkan.

Jujur, belum pernah ada karya tulis yang pernah berhasil aku buat. Eh, sebentar, kalau tidak salah aku dulu pernah membuat karya tulis dalam rangka ulang tahun kampusku, namun tidak menang, atau bahkan ditaruh ditumpukan paling bawah setelah dibaca, karya tulis yang mengangkat betapa megahnya kampus ku dari sisi yang berbeda sehingga berisikan orang-orang individualis sampai-sampai tidak mengenal nama teman satu almamaternya, termasuk aku didalamnya.
Begitu juga karya tulis wajib semua mahasiswa: skripsi, yang di kampusku menjadi mata kuliah pilihan, pun tak kuambil, praktis karya ku dalam dunia ini: nol!!.

Ahh, tapi persetan dengan karya-karya tulis itu, aku hanya ingin menulis sebagai ungkapan gembira, sedih, timbul, tenggelam, berkaca-kaca, terharu, bahagia, sakit, dan berjuta gambaran kaya perasaan dari hatiku.

….Dan aku mencintai hati ku …