Permisi sebentar…

6 March, 2008

Kerja yang bener dulu, bentar lagi nulis lagi ko… kerjaaaannn lagi paraaahhhh… 😦


25 Hal Yang aku Cintai tentang Jogja….

14 February, 2008

(Diambil dari Blog Dimas Novriandi) Cerita tentang betapa dahsyat nya pesona Jogja, dan betapa aku mencintainya.

Begitu banyak yang bisa dicintai dari suatu tempat, entah itu kamar, dapur, ruang baca, sampai lingkungan yang lebih besar, yaitu kota. Ya kota. Dan beruntungnya aku bisa mencintai Jogja, kota yang aku tinggali 10 tahun terakhir ini. Nah, kalo pengen tahu kenapa aku jatuh cinta dengan kota Jogja, walau mungkin berbeda dengan pendapat kamu, baca alasan-alasannya berikut ini:

  1. Pengendara sepeda motor lebih berkuasa daripada pengendara mobil, I’m the king of the road! Hehe…
  2. Penjual makanan enak yang berlimpah ruah, tentu dengan harga yang sesuai dengan kantong mahasiswa. Bahkan kadang bisa ngutang, ini yang paling penting.
  3. Teknologi fotocopy dan warnet menjamur lebih parah daripada wartel. Fotocopy bagus buat kesehatan kantong, soalnya gak perlu beli buku. Sedangkan warnet bagus buat kesehatan mata. Maksudnya? Baca berita aktual tanpa beli koran lah! Dasar ngeres…
  4. Cocok untuk sun bathing alias berjemur, karena mataharinya yang sangat menyengat di siang hari. Makanya kulitku berwarna coklat yang sangat bagus sekali (damn!)
  5. Banyak pekerjaan paruh waktu yang bisa dilakuin, mulai dibelakang layar sampai di depan layar.
  6. Kota yang berasa seperti kecamatan, everybody knows everybody, terasa aneh tapi terkadang menjadi menyenangkan, hehe…
  7. Gak perlu dandan heboh dan bersepatu kalo jalan-jalan ke mal. Cukup dengan kaos dan sandal jepit saja. Coba kalo hang out di Jakarta, doh repot!
  8. Kemana-mana deket. Tinggal berguling kayaknya dah nyampe deh ke tempat tujuan. Misal: Masuk kuliah jam 7? Berangkat aja jam 7 kurang 5, hehe…
  9. Status pelajar dan mahasiswa banyak untungnya. Ikut ini, diskon. Beli itu, diskon. Naik bis, diskon. Nonton pelem, gak diskon! Enak aja semuanya diskon.
  10. Banyak radio anak muda yang bagus. Bahkan ada yang on air 24 jam yang bisa buat nemenin belajar. Di kota lain? Dengerin aja RRI…
  11. Seminar dan eksibisi gratis dimana-mana. Kalo pengen dapet notebook, pulpen dan kalo beruntung, snack gratis, rajin-rajinlah membaca jadwal kegiatan yang ada. Lumayan kan buat nambah-nambah koleksi.
  12. Hanya di Jogja, satu propinsi ada gunung, ada pantai, ada kraton, ada candi, ada taman pintar (eh ada yang udah kesana?), ada malioboro, dan yang paling penting, ada aku. Awas kalo komentar!
  13. DVD dan VCD pelem, mp 3, dan program komputer (tentunya bajakan) gak perlu beli, ngapain repot-repot. Tinggal pinjem, ninggal KTM, beres deh.
  14. Kalo lapar di tengah malam, cukup berkunjung ke warung angkring a.k.a nasi kucing atau burjo yang bertebaran di mana-mana. Tidak perlu malu, karena semua ras dan strata sosial tumplek blek makan disitu.
  15. Indonesia mini, kita bisa belajar budaya dan aneka bahasa dengan teman-teman yang sedang belajar di Jogja. Kapan lagi kita bisa tahu aneka bahasa jorok dari berbagai daerah? Hihi…
  16. Toko buku murah bertebaran, mulai dari jual buku bajakan, sampe buku asli yang didiskon besar-besaran. Untuk pecinta buku, welcome to heaven. Suatu hari, toko buku Gramedia akan menjadi sejarah di kota ini.
  17. Gak punya duit buat makan Friend Chicken waralaba seperti KFC dan teman-temannya? Jangan khawatir, karena tersedia Kentuku FC, Jogja FC, Jakarta-Jakarta FC, dan masih banyak lagi di kota ini. Rasanya? Hanya Tuhan yang tahu. Yang penting kenyang.
  18. Pengen makanan cepat santap dengan uang minimalis? Beli kebab dan burger di kios-kios kecil di pinggir jalan. Berhenti sebentar, pesan, pergi deh.
  19. Pengen tampil modis dan bergaya ala artis ibukota? Gak perlu jauh-jauh ke departement store, butik-butik dan distro itu sudah menghantui orang Jogja di setiap sudut. Berapa lapis? Ratusan!
  20. Buat kamu yang males nyuci baju sendiri, dateng aja ke laundry service yang harganya cukup murah, juga bersih. Dan tentu saja ketika orang rumah bertanya, “nyuci dimana nih, kok bersih banget?” dan jawabannya sudah pasti, “sendiri dong!”
  21. Tempat jualan voucher pulsa bertebaran dimana-mana, jadi gak repot kalo mau isi ulang. Dan jelas, program provider operator yang paling laku di Jogja adalah XL xtra gratis 100 kali sms per hari dan telpon malam ala Simpati. Bukan apa-apa, karena gak semua mahasiwa mampu beli paket Fren (duh curhat ni ye…).
  22. Hanya di Jogja terjadi, minum teh hangat, pasti gak pernah dikasih sedotan, kenapa gitu? Mentang-mentang lebih murah… Diskriminasi peminum teh hangat!
  23. Pengen foto-foto keren tapi gak mau keluar uang banyak? Nah dateng aja ke box foto yang ada di mal atau studio foto digital yang cukup murah di berbagai tempat di Jogja. Cepat pula jadinya.
  24. Cukup mudah kalo mau cari tempat buat nongkrong. Bisa cuma sekedar nongkrong di pinggir jalan beramai-ramai dengan teman, sampai kongkow di beberapa kedai kopi yang mulai bermunculan. Nah kalo males bengong dan pengen ngadem, bawa aja satu buku, terus masuk salah satu kedai kopi, pesen satu minuman, nongkrong deh disana mpe mabok, gak bakal ada yang ngusir! Hihi…
  25. Terakhir, tentu saja karena hanya disini orang-orang tak dikenal tak pernah sungkan untuk menyapa dengan ramah dan sekedar bertanya, “apa kabarmu?.”

Sungguh, aku cinta kota ini. Yogyakarta.


kardus Puzzle

13 February, 2008

..Like A Comet
Blazing ‘Cross The Evening Sky
Gone Too Soon

Mengalun lembut nada demi nada, berbaris rapi masing-masing di bagiannya, mengayun indah layaknya balerina, perlahan menyusuri sendi dan masuk bagian terdalam panca indra bagaikan angsa putih yang dengan anggun bermain di liuk nya telaga sampai ke ujung muara. Kata demi katanya siratkan satu yang terlewat. Mengungkap kembali perjalanan mimpi, kilaskan kembali harmoni keinginan terpendam yang telah lama ingin meyeruak.

…Like A Rainbow
Fading In The Twinkling Of An Eye
Gone Too Soon

Aku berjuang demi ini. Terlalu banyak kisah yang harus aku lewatkan dengan perasaan sesak tak berarti. Asesoris dunia, selalu saja binar nya sementara. Tapi aku ingin menikmati binar itu. Toh tak dilarang, apalagi berdosa. Tapi sekali lagi, pasrah ikuti jalan yang telah dipolakan, apalah aku, tak lebih besar dari debu yang bersujud di terompah-Nya, dan aku merasa lebih baik untuk meminta dan bersyukur tak disilaukan binar-binar itu, daripada mengeluh. Dan aku yakin pengungkapan rahasia pola-pola itu jauh lebih agung dibandingkan keluhan-keluhanku.

…Shiny And Sparkly
And Splendidly Bright
Here One Day
Gone One Night

Sebutkan keinginan-keinginan mu teman. Boleh aku sedikit menebak? Masuk di SD-SMP-SMA yang ternama, kalau bisa negeri, yang hanya bisa dimasuki oleh orang-orang berotak cerdas dengan NEM selangit, agar otomatis bisa mengantongi paspor memasuki perguruan tinggi negeri yang kondangnya cap jempol. Selesaikan sarjana strata satu dengan predikat magna cum laude untuk selanjutnya bisa menyelesaikan strata dua di luar negri. Yang setelah kembali ke tumpah darah mengabdikan ilmu untuk perusahaan bule dengan gaji bulanan tak terkira.

Atau keinginan yang lain, memiliki kekasih hati yang cantik atau ganteng, setia, pengertian, tidak pernah marah, tidak cemburuan, tidak pelit, melindungimu, membuatmu nyaman bila berada didekatnya, tahu apa yang kau inginkan, dan segudang sifat impian yang lain. Mungkin juga kriteria yang lain, (buat wanita) pria mapan, bermasa depan cerah, dan yang paling penting memberikan kepastian yang cepat tanpa harus menggantungmu menjadi perawan tua. (Buat pria) keibuan, mertua orang ternama, dan memegang teguh prinsip poligami adalah ibadah **ah, liciknya pikiran para pria ini**. Lalu melangsungkan pernikahan bak cinderlela dengan pangerannya lengkap dengan segala sesuatu yang bernuansa putih.

Boleh jadi impian mu berikutnya adalah masa remaja yang penuh dengan kebebasan tanpa harus kebanyakan aturan. Bisa melanggar jam malam sesuka hati, tertawa bersama teman berkeliling kota, tak perlu belajar tapi bisa mendapat nilai bagus, dan jadikan setiap hari adalah pelangi. Mendapatkan jatah mobil, dipegangi kredit card no limit, mendiami rumah luas dua tingkat dengan kolam renang dan lapangan tenisnya, mengulik beragam perangkat elektronik mulai dari handphone high end, laptop Mac-air, pemutar MP3 layar sentuh, LCD TV 42’ beserta home theatre nya.

…Like The Loss Of Sunlight
On A Cloudy Afternoon
Gone Too Soon

Mungkin dirimu memiliki berjuta keinginan lain versimu sendiri. Sekarang, sebutkan dalam hatimu, mana yang memihak pada kenyataan, mana yang berlari mengikuti ilusi impian. Mungkin ada yang menarik nafas lega karena hampir keinginannya disapu bersih oleh sang kenyataan. Ada pula yang mengangguk-angguk tanda sebagian keinginannya telah terwujud. Yang terakhir mungkin kedipan mata cukuplah untuk isyaratkan keinginannya telah lenyap tak berbekas.

Hidup layaknya puzzle, berserakan di satu area, menunggu bagian demi bagiannya untuk diatur kembali menjadi sebuah wujud yang sempurna. Semua sudah ada pada tempatnya, takkan bisa dipaksakan bila lekuknya tak sesuai, hanya akan tinggalkan cacat yang menggangu. Belum tentu bagian yang ingin kau pasang sesuai dengan pasangannya. Perlu kesabaran dan ketelitian untuknya. Apalagi kalau bagian puzzle itu bukan satu paket dengan yang ingin disusun, tiba-tiba gambar seekor gajah berbadan pemandangan seonggok gunung-lah yang terjadi.

…Like A Castle
Built Upon A Sandy Beach
Gone Too Soon

Mungkin jika SD-SMP-SMA di sekolah negeri yang ternama, tidak akan menemukan seorang sahabat yang tak henti ada saat menangis atau tertawa. Mungkin jika S1 di perguruan tinggi negeri ternama, tidak akan tahu lebih dahulu mengetahui teknologi terkini input SKS, mungkin kalau sekolah S2 di luar negeri, tidak akan menemukan kejadian yang menjadi titik mula keberhasilan masa depan.

Atau bisa juga sebaliknya.

…Like A Perfect Flower
That Is Just Beyond Your Reach
Gone Too Soon

Mungkin jika kekasih cantik atau ganteng banget, semakin lelah diri ini menjaganya dari lirikan para mata nakal. Mungkin jika kekasih tidak cemburuan, maka sekarang sudah menjadi hidung belang berpredikat penjahat kelamin. Mungkin kalau dia terlalu setia kita tidak tahu pelajaran “..cintailah 70% saja” **ngeles**. Mungkin kalau dia keibuan, kau menjadi kekanak-kanakan karena dia keibu-ibuan **halah!!**. Mungkin kalau dia memegang teguh prinsip poligami, tidur ini tidak akan pernah nyenyak, karena setiap sebelum tidur harus berdebat terlebih dahulu untuk menentukan akan tidur dengan istri yang mana malam ini.

Atau bisa juga sebaliknya.

…Born To Amuse, To Inspire, To Delight
Here One Day
Gone One Night

Kalau saja masa muda mu penuh dengan kebebasan tanpa jam malam, mungkin sekarang sudah terserang insomnia akut, sehingga matamu layaknya Chris Jhon sehabis bertanding. Mungkin kau akan menjadi seorang yang sombong dan angkuh serta tidak menghargai sebuah perjuangan jika masa muda mu penuh dengan fasilitas. Mungkin dengan mobil itu…… **speechless dibagian ini, dammit, dendam kesumat**

Atau bisa juga sebaliknya.

…Like A Sunset
Dying With The Rising Of The Moon
Gone Too Soon

Sangat-sangat baik bermimpi dan punya keinginan, tapi mempersiapkan diri untuk kehilangannya jauh lebih baik. Karena meskipun itu sudah didepan matamu, dia bisa saja lenyap dalam semalam atau bahkan lebih cepat lagi seketika bagai cahaya blitz sekedipan mata. Terlalu cepat atau terlalu lambat itu hanya soal waktu. Biarlah bagian puzzle itu melekat pada bagiannya, sehingga bisa membentuk satu gambar sesuai petunjuk di kardusnya.

Dan pernyataan “Mungkin kalau……………………., aku takkan bisa seperti sekarang”, akan terus membahana di akustik ruang pikiran, hati, dan jiwamu.

…Gone Too Soon…

Puzzle ku pun kini belum terbentuk dengan sempurna, masih banyak bagian yang berserakan, terlihat sedikit ada cacat di pinggiran salah satu bagiannya. Ahh, Ingin mengganti Puzzle ini dengan Lego rasanya.

**ambil remote, repeat song Michael Jackson – Gone too Soon**


ke.nar.sis.an.ku

28 January, 2008

From: Dimas Carrera
Phone Number: +628139275xxxx
Date: 16/01/2008
Time: 09.30 pm

Text Message:
duh ja, u should be thinking to be
a writer, postingan ketiga udah
mejadi narasi deskriptif yg keren
bgt *tatapan sirik* pas bagian
mimpi daku berprasangka
dibwhnya ada tulisan “diambil
dr novel ***” ternyata… salut! keep
writing 🙂

**pipi merona**


…ikan Asin rasa Coklat

28 January, 2008

Mata, mata nya lelaki. Bagai ujung periskop yang mampu leluasa melihat ke sekeliling penjuru, atau mungkin bisa berputar 360 derajat disaat yang diperlukan. Sebagai ujung tombak dari sonar yang ditebarkan, melalui frekuensi tertentu, bedanya ini bukan mendeteksi serangan musuh, tapi lebih kepada menjaring target yang diharapkan. Target yang diharapkan? Ya iyalah, apalagi yang diharapkan untuk dilihat selain makhluk gemulai berasal dari venus, kulit putih mulus, tampakkan urat-urat biru yang halus, rambut panjang lurus, wangi mengalahkan kapur barus, dan badan ramping jenjang terurus.

Korban kekerasan media memang kita, dimana presepsi image wanita cantik berarti seperti itu. Membuktikan betapa dahsyatnya media, dan tak heran kadang dimanfaatkan untuk konpirasi-konspirasi licik yang berujung pada pembentukan presepsi SALAH menjadi BENAR. Dan aku beserta kedua temanku, pasrah saja dibodohi untuk di cuci otaknya mengenai presepsi wanita cantik tadi, tapi ya sudahlah, memang ini indah kok. Kenapa akhirnya harus munafik untuk menyangkal itu. Toh batasan pandangan zina kan dikedipan pertama, nah kami mencoba untuk tidak mengedip di pandangan pertama, sampai si wanita berupa titik kecil berlenggak-lenggok. Pedas juga terasa mata ini, tak heran minus-nya semakin bertambah. Tapi percayalah, hampir semua Mall di Jakarta menyediakan pemandangan ini. Apalagi Mall yang katanya di posisikan untuk SES A+ ini, kami orang-orang tak tahu diri yang berada di golongan D-, mencoba percaya diri saja melenggang.

Disatu selasar wanita dengan rok 25 centi diatas lutut, kaos tanpa lengan, rambut kriting gantung, anting-anting yang lebih cocok kalau menjadi gelang karena besarnya bergoyang-goyang di kuping. Sekelebatan wanita 23 tahunan, putih, tak begitu tinggi sekitar 155-an cm tapi terlihat 165-an cm karena highheels nya, skinny jeans, baju kebesaran open shoulder, di pundaknya tali surga **tali menuju surga dunia maksudnya** muncul disengaja. Melewatiku hampir tertabrak **ah kenapa hanya “hampir”** kecil imut sekitar 19 tahunan, memakai legging hitam, baju hijau yang tampaknya seperti setengah potongan daster kelelawar ibuku, ditengah baju itu bertuliskan MANGO, profesi nya tukang rujak kurasa, karena dia senang buah yang enak buat rujak, sangking senangnya tulisan mangga dibuat manik-manik di tengah-tengah bajunya **bodohnya aku**, desiran shampoo mahal dari rambutnya, dan wangi tubuhnya campuran rempah-rempah lulur cap dua putri dan kayu manis, tinggal ditambah ketumbar, pala, dan cabai keriting kurasa bisa jadi bumbu rendang mba nya ini.

Di pojok lain pasangan bergelayutan, tapi tetap wanitanya yang kami jadikan objek observasi, cantik sekali.

Tapi kenapa?.

Pasangan lainnya lewat, sekali lagi wanitanya cantik mendayu-dayu.

Tapi kenapa?.

Bertebaran dimana-mana pasangan. Dan sekali lagi muncul pertanyaan:

Tapi kenapa?

Inilah saat yang paling mengasyikkan sekedar pengobat rasa sakit hati karena harga yang tak masuk akal di setiap etalase, dimana salah satu tokonya memajang tulisan besar

SALE DISC 50%

untuk sepasang kancut pria menjadi “hanya” seharga Rp. 750.000 setelah di discount.

Bergunjing. Yah itulah obat sakit hati kami terhadap kesenjangan isi dompet ini.

“Tuh cewek cantik banget ya, sayang uda bawa monyet”. Temanku El memulai obrolan berujung kata sandi para pria, yang berarti melihat cewek cantik tapi sudah bergandengan dengan pasangannya. “Tapi ko mau ya, standar gitu muka cowoknya”, dia menambahkan sambil berbisik

“Ahh, pasti mobilnya yang ga standar”, Wan tidak mau kalah menambah dosa hasil gunjingan ini.

Teman-temanku sudah mendapat dosa, atas dasar solidaritas kesetiakawanan aku pun ingin ikut berdosa,

“Mungkin minyak senyong-nyong ama ajian Jaran Goyang yang sudah berbicara”

Komentar-komentar pun segera merentet dari mulut kami selama ada di Pusat Perbelanjaan itu. Membandingankan pasangan satu dengan yang lain. Betapa beruntung si pria dan tidak beruntungnya si wanita, atau sebaliknya. Dan memang banyak sekali tontonan malam itu yang dapat kami jadi kan analisa quantitatif dadakan. Intinya kenapa sih si wanita mau dengan pria tipe seperti itu atau sebaliknya, dimana seharusnya mereka bisa mendapatkan jauh lebih baik dari yang mereka bayangkan. Kami bertiga contohnya. Sakit hati karena kancut itu berujung pada perbuatan yang lebih kejam dari pembunuhan: fitnah.

Karma-pun terjadi instan seperti photo box, tanpa menunggu lama. Karcis parkir mobil yang disimpan baik-baik raib entah kemana! Dan untuk Pusat Perbelanjaan seperti ini yang keamanan parkirnya maha ketat, kehilangan karcis parkir berarti pelanggaran besar. Pemeriksaan-pemeriksaan berlangsung lebih dari 1,5 jam oleh pihak security yang seharusnya bisa hanya 5 menit, hanya karena Kepala Keamanannya sedang izin, sehingga kami harus menunggu sampai beliau kembali. Pencocokan nomer STNK dan nomer plat mobil, ditanyai segala macam, hingga berlangsung ke pembayaran uang denda yang jumlahnya bisa cukup menyumpal mulut kamu bertiga dengan waffle sundaes kesukaanku dibanding bergosip. Tuhan Maha Membalas, dan dia berbaik hati untuk membalasnya di dunia ini.

***

Tapi fenomena ini memang sering terjadi **menggunakan kata “fenomena”, membuatku merasa seperti Feny Rose di “setajam Silet!” **. Tapi benar teman. Lihatlah disekeliling kalian, banyak wanita cantik yang bergandengan dengan pria yang biasa saja. Atau pria yang gantengnya ‘aujubilee memberikan tatapan melindungi pada wanitanya yang standar. Jangan bilang kalau kalian juga tidak tergoda untuk berbisik-bisik di belakangnya, sekedar membicarakan Beauty and the beast ini.

Tapi apa sih yang sebenarnya dipermasalahkan. Presepsi cantik harus mendapat ganteng, atau ganteng harus mendapat cantik justru membuat kita menjadi seekor Pungguk, tak berani terbang untuk meraih sang bulan. Dan ternyata fakta ini **kali ini beralih ke style Kania Sutisnawinata di Indonesia Now karena penggunaan kata “fakta” ** membuat banyak pria atau wanita tak berani mendapatkan sesuatu yang dinggapnya berada jauh di selemparan lembing, padahal bisa dijangkaunya karena hanya selemparan kancut **please, berhenti bicara tentang kancut, masih perih hati ini, entah karena tak mampu membeli atau mendapat karma karenanya**.

Aku pun pernah merasakan dulu waktu berumur 11 tahun. Menyukai seorang gadis cantik, primadona satu kompleks karena parasnya yang ayu dan rambutnya yang jika disibakkan bagai menebar kembang tujuh rupa. Tak berani ku mengungkap cinta ini, karena merasa apalah aku, seorang anak kecil kurus, rambut poni beatles, dekil bau matahari. Beruntungnya aku, si gadis mengungkapkan cintanya lebih dulu kepadaku, kalau tidak, kurasa dia hanya akan menjadi putri dan aku rakyat jelata yang tetap terperangkap di tubuh sang kodok. Dan rasa menyesal pun timbul, bukan karena aku akhirnya berhasil mendapatkan si gadis, atau karena waktu kami berpacaran hanya sebentar, disebabkan aku dan keluarga harus pindah ke Kota Gudeg. Tapi karena mengapa tak dari dulu kucoba mendekati dan mengajaknya ber-cinta monyet, mungkin aku bisa lebih lama bersama dengannya main dokter-dokteran **buang pikiran kotormu wahai pembaca yang budiman**

(Cerita dengannya mungkin lain waktu akan kuungkapkan disini, dengan seijin kekasih hatiku pastinya )

***

Semua pembukus dan asesori duniawi itu sebenarnya relatif, bagai kerlingan lampu disko, yang jika dihidupkan cahaya ruangan disekitarnya, takkan lagi terlihat indah kerlap-kerlipnya. Percaya dirilah teman untuk mengejar siapa yang kau mau. Jangan batasi diri dengan hal-hal relatif. Yang lain orang, lain pula pendapatnya.

Ari Lasso pernah mengajarkan ilmu rahasia, dan ini serius, tolong hormati dalam membacanya, serta, tolong jangan disebarkan ke yang lain, karena ini hanya untukmu. Ilmu yang hanya boleh dipraktekkan pria cukup umur. Mulai amalkan ilmu ini dengan terlebih dahulu menyebut namaku tiga kali, lalu koprol ke belakang 2 kali, tiger sprong, diakhiri dengan kayang. Kalau kau mempraktekkan ini semua niscaya kau adalah orang yang sangat aku hargai karena benar-benar serius membaca tulisanku.

“Sentuhlah dia dekat dihatinya, dia kan jadi milikmu selamanya”

Ya hanya itu yang diperlukan. Karena wanita “memandang” sesuatu mendahulukan hatinya. Dan apabila itu berhasil dilakukan, percayalah, maka hatinya yang akan bicara. Jika hatinya yang sudah berbicara maka perasaannya yang akan memutuskan segalanya. Dan saat perasaan yang sudah memutuskan segalanya, maka hal-hal yang berkaitan dengan buruk rupa, materi seadanya, bau badan bagai ban dalam sepeda, dan dandanan abang-abang jual es kelapa, akan melebur menjadi satu penampakan pria dalam serial komik cantik, plus kerlang-kerling cahaya sebagai latarnya. Begitulah jika perasaan yang sudah memutuskan: ikan asin terasa seperti coklat.

***

Mungkin inilah yang menjadi jawaban dari gunjingan-gunjingan kami, mengapa si beauty mau dengan si beast. Yang pasti diperjalanan pulang kami sudah mendapatkan topik yang lebih menarik dari pada itu semua. Yaitu bagaimana cara, jika kami membeli kancut mahal itu, orang tahu kalau kami sedang memakainya, pamer.

Datar El memberikan ide, “Pakai diluar setelah celana panjang”

Wan menyambar, “ Pakai di kepala sebagai hiasan rambut setelah disasak”

“Jahit ditengah kaos, menutupi tulisan MANGO, biar orang tahu profesi pemakainya bukan lagi tukang rujak, tapi tukang kancut”, aku pun menjawab sekenanya.

Sambil mataku mengerling keluar jendela mobil, memperhatikan dua manula saling tuntun memasuki sebuah Taxi. Mereka berdua tahu kalau mereka tak menarik lagi satu sama lain, namun tetap saling menjaga dan membuat segalanya indah menarik, dan kurasa hati merekalah yang berbicara dengan bahasa cinta seumur hidup. Mendadak pemandangan itu berubah menjadi Pangeran yang tampan, gagah bagai panglima perang, sedang menuntun sang Putri dengan gaun mengembang di bagian bawah yang sangat indah, tak ketinggalan sarung tangan putih yang membalut jari-jemari sampai sikunya, sambil menyambut tangan sang Pangeran, sang Putri menunduk tanda terima kasih. Perlahan menaiki Kereta Kencana megah berhiasan batu mulia berwarna-warni dan ditarik selusin kuda putih untuk selanjutnya kembali ke istana mereka.

Ah, ternyata hatiku yang sudah tersentuh.


Wisma lan Turangga

28 January, 2008

Ruangan yang terang benderang, nampak seperti Aula atau gedung serba guna. Lampu dan pengeras suara beribu watt tampakkan taringnya, memang dibuat begitu untuk menyukseskan pagelaran akbar ini. Dimana-mana tampak poster-poster, banner, dan berbagai macam alat dukungan. Teriakan-teriakan berisik serta sorak-sorai berbaur menjadi satu dengan setting-an maximal volume pengeras suara. Mirip sekali suasana ini dengan debat terbuka calon presiden Amerika yang akhirnya hanya di dominasi oleh opini-opini dari Senator Hillary Clinton dan Senator Barrack Obama. Mungkin kalau terlalu jauh daya khayal kalian sampai ke pemilihan presiden di Amerika, kita kembali saja ke pemilihan calon Kades, yang mempertandingkan antara Bpk. H. Tumingkir Dewanggono sebagai calon Kades dari dusun Purwomartani verus Bpk. Tukijan dari dusun Sorogenen. Tumingkir dan Tukijan, dua lawan politik setingkat desa yang diberi julukan masyarakatnya sebagai T2, mungkin karena itu backsound pemilihan ini sebuah lagu populer berjudul “OK”. Nah, ini hampir sama -jika dilihat dari sisi suasana- dengan pemilihan di Amerika sana. Bedanya sorak-sorai dan kerasnya suara dari corong microphone kali ini ditambah dengan riuh rendah kokokan ayam beserta cicitan anaknya, embikan kambing, serta lenguhan sapi. Sudah bisa dibayangkan?? Ahh, akhirnya. Memang terlalu jauh benua Amerika itu.

Tapi ada yang aneh disini, yang berdebat di atas panggung bukanlah Hillary Clinton atau Barrack Obama, apalagi Bpk. H. Tumingkir Dewanggono atau Bpk. Tukijan si dua lawan politik berjulukan T2. Tapi di satu podium berdiri dengan gagah sebuah Ford Escape 2004 Hijau, ban belakangnya kini telah berubah menjadi kaki dan ban depannya beradaptasi menjadi tangan. Front Bumper beserta lampu depannya menyala menjadi mata, dan tempat yang dulu adalah plat nomer, menjadi mulutnya. Mirip sekali dengan autorobot di Transformer. Di podium yang satu lagi tegak kokoh sebuah rumah Bukit Golf Cimanggis dengan Luas Tanah 120 dan Luas Bangunan 60. Matanya mengedip dari jendela atas, mulutnya membuka tutup dari pintu ruang tamu, dan kanopi menjadi hidungnya.

“Akulah yang sepatutnya lebih dulu dipilih untuk dimiliki”. Si mobil lebih dahulu membuka debat terbuka ini.

“Sudah kucanangkan program kerja, untuk membawa yang memilihku, berangkat kerja serta berkeliling kota Jakarta. Belum lagi bisa membawa ke tanah kelahiranmu saat mudik nanti. Dan semua nya dilakukan dengan memberikan kesan gagah padamu wahai pemilihku. Belum lagi bonus lirikan memandang kagum dari orang-orang yang memandang kita nanti”. Mobil melanjutkan debat ini dengan memaparkan proram kerjanya secara gamblang.

Tak mau kalah si rumah angkat bicara, karena saat ini memang gilirannya untuk berbicara,

“Mobil memang boleh dipilih. Tapi aku sarankan untuk memilihku terlebih dahulu. Investasi jangka panjang yang tak akan merugikan, dimana harga tanah tak pernah turun, melainkan selalu naik. Belum lagi akan ada keluarga bahagia yang akan aku naungi nanti. Mata-mata yang melewati pun tak kalahnya takjubnya memandang”, si rumah tanpa henti menonjolkan kelebihan-kelebihannya, sambil sesekali tetap mengedipkan mata jendelanya. Berjenis kelamin betina mungkin si rumah ini.

Karakter kedua pesaing yang terlihat arogan ini membuat suasana debat menjadi semakin seru.

“Kalau masalah keluarga yang kau lindungi jadi bahasan-mu hai rumah. Bayangkan keluarga muda yang kubawa berkeliling melihat-lihat pemandangan, disaat dirimu hanya bisa teronggok seperti barang tak berguna. Belum lagi nanti si kecil yang bermain bebas di kursi belakangku, belanjaan untuk keperluan sebulan yang dibeli ditaruh bagasi, dan ciuman mesra sang istri yang diantarkan belanja sementara si pemilih bekerja”. Mobil tak mau kalah, opini yang dilontarkan kembali memaparkan fakta-fakta untuk menjatuhkan si rumah.

Sementara sorak-sorai pendukung semakin riuh. Mengelu-elu kan kandidat yang mereka pilih.

Elu, elu, elu…” teriak mereka. Tak sedikit pula yang meng-gue-gue kan jagoannya.

Gue, gue, gue…”, sorak sebagaian mereka tak mau kalah.

Dan opini-opini terus terbentuk dengan berjalannya waktu. Saat satu opini menjatuhkan yang lain, maka tepuk tangan dan teriakan membahana.

Kadang teriakan-teriakan itu sedikit menyadarkan aku dari lamunan ini. Pergolakan batin yang sebenarnya membuat suasana kampanye dalam otakku sendiri. Membuat kubu mobil dan kubu rumah oleh syaraf-syaraf khayalanku, dan otot-otot daging menjadi pendukungnya. Yah beginilah, si anak muda yang tak punya uang cukup untuk memiliki keduanya, harus bertarung batin dulu guna memilih mana yang terlebih dahulu harus dimiliki. Tak apalah, karena tak punya cukup uang untuk memiliki, paling tidak aku punya cita-cita untuk menghadapkan kedua materi duniawi itu saling men-debat.

Di dalam kepalaku, debat menjadi semakin panas. Panas sekali bahkan. Karena sebagian pendukung ada yang sudah mulai membakar bendera pendukung lain. Perang mulut di atas panggung sudah mulai menjadi aksi lempar-lemparan microphone. Bahkan si rumah sudah berhasil mengangkat podiumnya untuk dilemparkan ke muka si mobil.

Terasa semakin berat dan pusing kepala ini.

***

Pelajaran menjadi seorang pria sejati oleh ayahku masuk ke bab berikutnya (pelajaran menjadi pria sejati lainnya silahkan baca diTeletubies Berpelukan) yaitu menjadi seorang yang mandiri. Memang itu yang kupegang teguh hingga sekarang. Termasuk dalam hal materi, karena mulai semester 1 perguruan tinggi, aku sudah meminta orang tua ku untuk menghentikan uang saku, sementara mereka masih sangat mampu untuk menjejalkan jajanan kepadaku. Termasuk dengan hal yang sekarang membuat kepala berat, karena debat terbuka tadi sudah menjadi chaos dan anarkhis persis seperti suporter Aremania yang membumi hanguskan Stadion Kediri.

***

Teman, dalam falsafah Jawa, ada lima hal duniawi yang berkaitan dengan rohani untuk dilengkapi, agar dapat menjadi seorang Pria Seutuhnya. Yaitu:

  1. Wisma (rumah) sebagai tempat bernaung, tak perlu megah yang penting memberikan ketentraman bagi si penghuninya **kalau bisa megah juga ga nolak**.
  2. Garwa (istri) yang melengkapi ketentraman di dalam rumah dalam suka maupun duka, memberikan support dalam bentuk apapun, karena dibalik pria yang hebat terdapat wanita yang luar biasa. Dan menjadi jiwa yang kosong seorang pria tanpanya, karena itulah kodrat seorang wanita: siGARaning nyaWA (belahan jiwa).
  3. Turangga (kuda) yang jaman sekarang dapat berarti kendaran, bisa mengantarkan kemana arah tujuan.
  4. Curiga (Keris) perlambang ketahanan diri dan prinsip yang dipegang teguh untuk membabat segala halangan.
  5. Kukila (Burung) sebagai simbol hobi menghibur dikala penat meraja..

Mau itu diartikan secara tersurat sebagai bentuk materi yang melengkapi hidup seorang pria, atau tersirat sebagai bekal media dan sarana untuk mencapai kehidupan yang lebih bahagia, kelima-limanya memang benar dilihat dari segi manapun. Karena mulai dari jaman patih, terbawa sampai sekarang di jaman pedih, seorang pria dianggap berhasil apabila berhasil memiliki serta memelihara makna kelima elemen ini.

Nah, dari ke lima elemen itu dua hal yang sekarang sedang menjadi dillema-ku **dibelakang Nelly dan Kelly bersenandung untukku**. Keduanya sama penting, dan sama susah dijangkaunya. Sementara kondisi perolehan nilai rupiah di tabunganku pointnya flat, cenderung menurun grafiknya, sehingga aku harus memilih salah satunya untuk dimiliki terlebih dahulu. Wisma atau turangga.

***

Rumah sangat penting artinya. Selain semakin mahalnya tanah dan bahan bangunannya, lahan yang disediakan semakin sedikit. Developer tak bisa melihat tanah kosong sedikit, langsung di buat cluster imut untuk dijadikan lahan hunian. Bisa-bisa saat nanti aku memutuskan membeli rumah, sudah tidak ada lagi lahan kosong yang tersedia untukku, sehingga terpaksa aku harus tinggal di apartemen **somboooooong**, atau jelek-jeleknya rumah susun. Ah, tak mau aku saat terbangun tidur nanti, bukan bumi yang kuinjak. Dan harga yang tak mungkin turun merupakan salah satu sarana paling efektif untuk investasi, dan ini cukup menggoda. Apalagi memikirkan masa depan keluargaku ada di dalamnya **adakah diantara kalian yang bersedia me-noyor kepalaku, untuk sadarkan agar tak melamun terlalu jauh??**

Sedangkan mobil. Nah, sebenarnya ada dendam kesumat antara aku dan mobil, membuatku bernafsu untuk memilihnya terlebih dahulu dibandingkan si rumah. Dilahirkan di tengah keluarga besar tujuh bersaudara. Dua bersaudara di awal perempuan, dan sisa lima ke bawah bujang-bujang bengal. Aku sendiri mendapat nomor urut paling bontot dengan sisa-sisa gen bapak ibu ku.

Ini yang sebenarnya menjadi titik mula dendam ini membara. Saat umurku cukup untuk mendapatkan hak sebuah kendaraan roda empat, bapakku memberikan alasan kenapa tak dibelikannya aku besi bergerak itu,

“Anak tujuh, masak satu-satu mau dibelikan mobil, bisa jadi tambah macet dunia ini”, ungkapnya masih berseragam putih hitam yang di dada sebelah kanannya berbordir dua kuda laut seperti sedang berciuman, lambang sebuah perusahaan minyak pemerintah.

Jadilah yang mendapatkan jatah mobil dua kakak ku yang perempuan, sementara lima anak bujangnya mendapatkan jatah motor Honda GL Pro, satu untuk satu orang. Ini pun bapak punya alasan sendiri,

“Anak lanang beli mobil sendiri, biar mandiri. Jadi jatah mobil buat yang perempuan”, kata bapak waktu itu. Suu’dzon ku waktu itu berpikir, dia mengajari anak prianya untuk mandiri, tapi membuai menantu anak perempuannya kelak. Bahagianya menjadi menantu Bapak Amat Munawar. Beruntung si menantu-menantu ini adalah seorang yang hebat dibidangnya, sehingga tak perlu kuperpanjang masalah ini **peace mba-mba ku!! J**

Dendam yang lain lebih kepada wujud egois masa remaja, atau bisa juga lebih disebut gengsi tak mau direndahkan. Melihat rekan sebayaku hilir mudik naik mobil. Ah, berkelas sekali mereka. Tertawa, bercanda bersama sahabat didalam adem nya AC mobil jatah dari orang tua mereka. Tampak lebih bisa masuk di semua kalangan pergaulan Jogja. Sementara aku berpeluh keringat, mencari nafkah sendiri menunggangi Honda Astrea Grand kemana-mana, yah GL Pro jatah untukku digondol maling tak tahu diri sewaktu aku sedang latihan band **anak band maannn!!!**.

Tapi dendam itu akhirnya berubah menjadi motivasi positif buatku. Dan patutlah aku berterima kasih kepada remaja-remaja ber-mobil itu. Karena telah menorehkan janji mendalam untukku sendiri, kalau aku akan lebih baik dari mereka, dan aku akan membeli materi dunia ber-kaburator ini SENDIRI!! Puncak pembuktianku adalah saat aku berhasil mendapatkan prestasi-prestasi yang jauh lebih membanggakan dari mereka, dan aku berhasil menarik hati seorang wanita cantiiiikk sekali sekaligus menyingkirkan pria sainganku, dengan Honda Astrea Grand yang mengalahkan aura BMW Merah Marun milik si pria. Hahahaha **tertawa licik**.

***

Pelan-pelan kucoba untuk mengatur kembali setting ruang kampanye, karena debat terbuka sebelumnya belum berhasil memutuskan pemenang mutlak. Kususun lagi podium tempat berdiri si mobil dan si rumah serta para pendukungnya. Namun tiba-tiba, tak disangka tak dinyana. Tarrr!! Terdengar letasan yang disertai asap putih yang kelilinginya. Muncul satu lagi podium di tengah podium si mobil dan si rumah. Berdiri angkuh namun terlihat sakral di podium itu, berkostum putih lengkap dengan jubah panjang, tak ketinggalan kembang-kembang melati serta payet yang jadi hiasannya. Dialah Sang Resepsi Pernikahan, siap memuntahkan emosinya karena tak diundang di pemilihan ini.


dari sahabat

18 January, 2008

… membuatku terharu

-terima kasih-